Bernostalgia Bersama Masyarakat Sekitar di Layar Tancap Sewon: Pre-Event Sewon Screening 10.
“Kita Satu Sama Lain Itu Tidak Bisa Lepas dan Hidup Sendiri-Sendiri”
Yogyakarta, 9 September 2024 – Di Tengah hujan yang mengguyur Sewon pada Minggu, 8 September 2024, tidak membuat teman-teman yang hadir di Lapangan Prancak Dukuh untuk menyaksikan Layar Tancap Sewon kembali kerumah mereka masing-masing. Masyarakat yang hadir antusias untuk menonton film yang akan ditayangkan, mereka duduk di tribun lapangan, di bawah tenda yang disediakan, bahkan ada anak-anak yang menutupi diri mereka dengan terpal agar tidak kehujanan dan tetap bisa menonton.
Hal menarik dari Layar Tancep Sewon yang merupakan salah satu dari rangkaian program Pre-Event Sewon Screening 10 ini adalah kita dibawa bernostalgia dan bermasyarakat. Ada empat film yang ditayangkan yaitu film “Pamit Ronda” (Erlina Rakhmawati, 2023), “Lebaran dari Hongkong” (Achmad Faishol, 2023), “Nasida Ria: Sun Stage” (Wisnu Candra, 2023), dan film “Undian” (Fitriana Lestari, 2017). Melalui keempat film yang ditayangkan ini, Jidan Aruf selaku programer ingin memberikan rasa nostalgia kepada penonton dengan target penonton diutamakan kalangan orang dewasa (para bapak/ibu di desa terdekat), dengan konteks nostalgia seperti trend pada masa mereka muda yaitu isi dari keseluruhan pada keempat film yang ditampilkan.
Gelak tawa dari para penonton saat pemutaran film mampu menghangatkan suasana di tengah riuh hujan malam itu, membuat masyarakat rehat sejenak dari kesibukan duniawi mereka. Dengan tema film tentang kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat yang akhirnya menimbulkan keterkaitan dengan realitas kehidupan para penonton.
Setelah sesi pemutaran, dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama Filmmaker dan tamu spesial yaitu Bambang “Ipoenk” dari Paguyuban Filmmaker Jogja. Erlina Rakhmawati, sutradara film “Pamit Ronda” menceritakan bahwa ia terinspirasi dari wilayah warga Sewon, kegiatan ronda-meronda yang sudah menjadi budaya kita. Hal menarik lagi dari film ini adalah berdasarkan pengalaman mba Erlina tersendiri, “kisah ini tuh terjadi di pagi hari waktu itu tu, inspirasinya dari situ di Pendowoharjo, jadi waktu itu pagi-pagi ada orang teriak maling-maling, bapak-bapak langsung tuh dengan kepalan, dengan otot itu, mengeluarkan senjata bisa batu lah, apalah, dan ibu-ibu yang disana tuh langsung bicara eh jangan dipukul, ditanya dulu dia itu maling atau bukan, dengan kepolosan dan perempuan yang kasian loh dia itu belum tentu maling, bergegas menahan bapak bapak dan itu ternyata bukan maling untung belum digebukin,” ujar mba Erlina. Mba Erlina juga bercerita ada salah satu suku di Nusa Tenggara Timur, suku boti, sangat kuat dengan budayanya barter, dan di sana saat ada salah satu warga yang mencuri maka warga-warga yang lain itu akan membantu, bukannya kemudian menghukum, jadi misalkan ada salah satu warga mencuri ayam, maka warga-warga sekitarnya akan memberikan ayam juga, supaya dia punya perpanjangan daya hidup.
Wisnu Candra sutradara “Nasida Ria: Sun Stage” yang hadir secara daring menjawab pertanyaan penonton saat ditanya tentang momen berkesan dalam proses pengerjaan filmnya. “Paling seru sebenarnya nyatuin visi antara sutradara film dan seniman kolase ini, takutnya temen ku yang main kolase ini dia tuh cenderung tipikal orang yang membuat kolase-kolase secara abstrak, sedangkan di Nasida Ria ini, aku pengen kolase yang naratif, mungkin itu proses yang paling seru ya sepanjang aku produksi film sampai saat ini. Dan yang serunya lagi 6 bulan film ini dikerjakan kita itu belum bisa nonton preview filmnya, jadi baru bisa preview film itu masuk ke bulan 9, baru bisa liat kolase. Karena memang secara treatment pembuatan mungkin menawarkan pembuatan film yg lumayan mudah tapi di post-pro-nya itu,” ujar mas Wisnu.
Lalu diskusi dengan mas Bambang “Ipoenk” dari Paguyuban Filmmaker Jogja yang menjawab pertanyaan mengenai pendanaan film, “Ketika kita ngomongin tentang pendanaan film itu macem-macem bentuk nya ya, salah satunya kalo di Jogja itu ada pendanaan lewat dana keistimewaan dan itu dana paling besar se-Asia Tenggara, jadi untuk film pendek kita ada 180 juta kayak gitu. Nah setiap tahunnya itu ada dari pemerintah, sebenarnya di jogja ada di dinas kebudayaan kota itu ada pendanaan sebesar 40 juta, dan dalam provinsi kita punya 180 juta, dan di nasional pun ada dana Indonesiana jumlah bisa 100-120 juta. Ikutin aja yang 40 juta dulu baru ke yang 100 baru 180, karena pasti tuntutannya akan berbeda, misalnya di pendanaan Danais tuntutannya sangat besar sekali.” jawab mas Ipoenk.
“Benang merah dari semua film yang ditayangkan dan diskusikan, bersinggungan dengan bermasyarakat dan berkomunitas, bahwasannya kita satu sama lain itu tidak bisa lepas dan hidup sendiri-sendiri, meskipun seberapa unik kita, berbeda kita, kita tidak mungkin mengisolasikan diri dan pada akhirnya kita akan tetap membutuhkan bantuan tangan dari orang lain” kata penutup dari Aldy selaku moderator.
Layar Tancap Sewon menjadi acara penutup dari rangkaian Pre-Event Sewon Screening 10. Perjalanan belum selesai, masih ada rangkaian program Main-Event yang akan memberi keseruan yang lebih besar. Jangan lupa untuk datang di program Main Event Sewon Screening 10 yang sudah hampir di depan mata. Turut serta dalam perayaan perjalanan satu dekade Sewon Screening 10! Nantikan informasi lebih lanjut di instagram @sewonscreening .
Penulis Vitriya Ningrum
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira