Focus On: The Persistent Look of Wucha Wulandari
“Karena Perempuan Bisa Berdikari”
Yogyakarta, 28 September 2024 – Perempuan, sering dinilai dengan stigma bahwa perempuan tak mampu melakukan banyak hal sendiri, tak mampu melakukan pekerjaan berat, tak mampu melawan atas ketidakadilan dan lain sebagainya. Tentu saja saya sangat tidak menyukai stigma tersebut. Selama saya hidup, saya sudah banyak melihat perempuan – perempuan tangguh, gigih, dan berani dalam menghadapi hidup yang penuh rintangan ini. Lihat saja mereka yang menghidupi keluarga dengan kedua tangannya, atau yang berjuang dalam dunia yang keras demi mimpi dan cita-cita. Mereka bangkit saat jatuh, tidak banyak mengeluh, dan selalu menemukan berbagai cara untuk bertahan. Sewon Screening 10 menghadirkan Wucha Wulandari dalam program Focus On: The Persistent Look of Wucha Wulandari yang telah terselenggarakan pada 28 September 2024 pukul 13.00 WIB di Concert Hall, ISI Yogyakarta.
Siapa Wucha Wulandari? Wucha Wulandari adalah seorang sutradara film dan seorang peneliti, ia lulusan dari program studi Film dan Televisi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan program studi magister Ilmu Budaya jurusan Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Melalui film, ia gigih menyuarakan isu peran anak dan remaja perempuan juga perubahan iklim.
Kenapa Wucha Wulandari dipilih untuk program ini? Sewon Screening memilih Wucha Wulandari karena ia mewakili tema persistence. Ammara, salah satu programmer Sewon Screening 10, menyatakan bahwa mereka tertarik menghadirkan seorang filmmaker perempuan yang membahas isu gender dan anak-anak. Wucha dinilai sebagai sosok yang memiliki energi ketangguhan tersebut, baik dalam industri film maupun proses kreatifnya. Annisa, programmer lainnya, menambahkan bahwa Wucha bukan hanya sekadar sosok perempuan yang layak diberi sorotan lebih, tetapi juga memiliki rekam jejak filmografi yang strategis untuk program ini.
Dalam program ini, tiga film karya Wucha Wulandari ditayangkan: Behind The Healing Herbs (2016), Muslimah (2018), dan Laila (2024). Ketiga film ini memiliki benang merah yang sama, yakni membahas isu gender dan ekspresi perempuan. Menurut Ammara, Behind The Healing Herbs menggambarkan perempuan yang menopang keluarganya melalui usaha berjualan jamu, sementara Muslimah mengeksplorasi dua sudut pandang tentang apa artinya menjadi seorang Muslimah. Film ketiga, Laila, menyoroti fenomena pernikahan dini yang masih marak terjadi.
Setelah pemutaran film, dilanjut dengan sesi diskusi yang dipandu oleh Giannina Trixie Lapian, di mana Wucha Wulandari berbagi kisah perjalanan kariernya. Ia bercerita tentang bagaimana sejak SMA ia telah tertarik membuat film dan kemudian mulai fokus pada isu-isu perempuan. Salah satu pertanyaan datang dari Arta, yang tertarik dengan film Muslimah dan ingin tahu bagaimana Wucha memutuskan untuk membuat film ini serta apakah ada pro dan kontra. Wucha Wulandari menjawab bahwa ia pernah diberi pertanyaan mengenai bagaimana dirinya sebagai seorang muslim di Indonesia. “Akunya pribadi yang hidup di lingkungan yang muslim waktu kecil sampe gede, terus kuliahnya langsung berubah, terus temen-temen yang lain background-nya macem-macem, pertanyaan itu akhirnya merefleksikan ulang, aku tuh muslim yang seperti apa sih, kenapa aku beragama Islam” ujarnya. Dan untuk film Muslimah sendiri iya mendapat lumayan banyak pro dan kontra di platform digital tempat film tersebut pertama kali didistribusikan.
Lalu datang pertanyaan dari Hendra: “Aku pengen nanya ke film Laila ya, awal mula cerita Laila itu dari mana ya mba?, dan ada alasan sendiri ga sih mba alasan tersendiri memilih Kalimantan sebagai latar cerita?.”
Wucha Wulandari menjawab bahwa proses film Laila itu cukup panjang dan ia cukup nekat. “Waktu itu pengen banget bikin film di Kalimantan bareng temen-temen di Kalimantan. Terus abis itu aku suka kapal, terus aku pengen banget menceritakan narasi tentang anak perempuan. Lalu riset apa sih yang terjadi disana, kenapa penyanyi dangdut pertama yang lolos di KDI itu tuh dari Kalimantan Balikpapan, dia masih 13 tahun, dan waktu itu dia jadi bintang di kampung pesisir itu. Anaknya masih muda banget terus dia putus sekolah, itu nge influence anak-anak perempuan di pesisir itu untuk jadi pedangdut, termasuk pemain Laila ini”. Ujarnya.
Apa yang memotivasi Wucha Wulandari untuk mengangkat isu perempuan dalam ketiga film yang ditayangkan?
Dalam sesi wawancara, Wucha Wulandari menjelaskan bahwa motivasinya sederhana, peran perempuan dalam industri film masih jarang terlihat, apalagi di wilayah yang minim akses pendidikan. Terus isu perempuan itu masih jarang banget yang ngomongin kalau bukan kita yang bicarain ya siapa lagi?” tuturnya.
Program Focus On: The Persistent Look of Wucha Wulandari ini memperlihatkan kepada kita kegigihan seorang perempuan yang terus berjuang, yang bisa melakukan banyak hal yang ia inginkan. Dunia seringkali menilai perempuan sebelah mata, meragukan kemampuan perempuan. Namun, melalui karya-karyanya, Wucha Wulandari telah membuktikan bahwa perempuan mampu menentukan jalannya sendiri. Perempuan adalah manusia yang tangguh, dan penuh tekad.
“Harapannya semoga Focus On kedepannya lebih rame dan mungkin bisa lebih banyak menghadirkan filmmaker-filmmaker perempuan. Harapan tahun depan dan tahun-tahun selanjutnya bisa persistence, dengan bahasan yang lebih fokus dan bersegmen”. Ujar Ammara dan Annisa.
Saat ditanya mengapa tertarik untuk Focus On terhadap perempuan, Annisa dan Ammara memberi jawaban yang sangat bermakna.
“Karena perempuan harus punya spotlight. Karena perempuan bisa berdikari.”
Penulis Vitriya Ningrum
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira