Kegigihan International Film Student Showcase Sewon Screening 10 Unity in Diversity: Menggali Budaya Lokal dan Isu Kesehatan Mental

|

Sorotan

Yogyakarta, 25 September 2024 – Sewon Screening 10 tahun ini kembali menghadirkan kesegaran baru dengan adanya Special Program: International Film Student Showcase. Berkolaborasi dengan School of The Art Singapore, University Teknologi Mara, dan Institut Francais Indonesia. Program IFFS ini menampilkan empat film dari Singapura, Malaysia, dan Perancis, diantaranya yaitu film “Balikbayan” (Victoria Khine), “Picture Perfect” (Kinjal Kohri), “Sahabat Selamanya” (Dhia Firdaus), dan “Pema” (Victoria Neto). Sesi pemutaran keempat film ini telah diselenggarakan hari ini di Concert Hall Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 

Adanya Special Program: International Film Student Showcase ini, menjadi wadah ekspansi bagi Sewon Screening 10 untuk menghadirkan ruang apresiasi dan menjangkau jejaring yang lebih luas dengan berbagai school of arts film departement dari luar negeri. Dengan melibatkan berbagai sekolah seni dan departemen film, program ini tidak hanya menyediakan wadah bagi para filmmaker untuk menampilkan karya mereka tetapi juga mendorong pertukaran budaya dan gagasan kreatif.

Para sutradara dari keempat film yang telah ditayangkan dalam Special Program: International Film Student Showcase ini, hadir secara online dalam sesi diskusi dengan filmmaker. Ada Samuel Ardi Bonardo dari Institut Francais Indonesia  turut hadir secara khusus dalam program ini menjadi translator selama sesi diskusi dengan Victoria Neto. 

Victoria Neto memaparkan mengenai konteks budaya dalam film “Pema” dimana membicarakan depresi dan isu mental health di Kongo merupakan hal yang tabu sebab adanya stigma bahwa depresi dan mental health hanya untuk orang kulit putih saja. Di sisi lain, Victoria Khine menjelaskan elemen budaya dalam film “Balikbayan”. Secara objek kotak Balikbayan itu merupakan budaya Filipina, sedangkan secara konteks Victoria Khine sendiri selaku sutradara dalam film ini merupakan orang Burma atau Myanmar. Sementara Dhia Firdaus mengangkat budaya keseharian di sekitar tempat tinggal neneknya dalam film “Sahabat Selamanya” yang memiliki kesamaan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara. Lalu Kinjal Johri menunjukkan bagaimana seseorang mengaktualisasikan dirinya dalam film “Picture Perfect” yang dikemas dengan tren budaya masa kini yaitu tren vloging dan toxic positifity.

“Relevansinya tentang kultur Indonesia yang ternyata juga ada di luar negeri,” ujar Jidan selaku progammer Sewon Screening 10 saat ditanya alasan memilih keempat film itu untuk ditayangkan dalam Special Program: International Film Student Showcase  ini. 

Ada dua topik yang diangkat dalam keempat film itu yaitu cultur identity dan isu mental health. Salah satunya dalam film “Pema” karya Victoria Neto, menggali isu kesehatan mental yang dipadukan stigma budaya yang ada. Dalam film ini, depresi digambarkan bukan sebagai masalah medis semata melainkan sering dikaitkan dengan kepercayaan mistis seperti fenomena kerasukan. Di Indonesia sendiri konsep seperti ini masih sering dijumpai, dimana gangguan mental kadang diartikan sebagai hal yang berhubungan dengan kekuatan supranatural. Hal ini menunjukkan bahwa berbagai budaya di dunia memiliki cara yang berbeda dalam memahami kesehatan mental, baik dari sudut pandang tradisional maupun modern. 

Lalu dalam film “Balikbayan”, ada tradisi pengiriman kotak Balikbayan saat perayaan Natal. Tradisi kotak Balikbayan ini bukan hanya sekadar pengiriman barang, tetapi juga cara untuk mempertahankan ikatan emosional antara mereka yang berada jauh di perantauan dengan orang-orang yang mereka cintai di kampung halaman. Hal tersebut sangat mirip dengan kebiasaan di Indonesia, di mana masyarakat sering mengirimkan paket yang dikenal sebagai parsel saat merayakan hari-hari besar seperti Idul Fitri maupun Natal.

We are unity in diversity di seluruh dunia. Kita sebenarnya merasakan hal yang sama, cuma beda tempat dan beda cara menanggapinya,” imbuh Jidan. Harapannya para penonton yang hadir dalam Special Program: International Film Student Showcase ini dapat memahami mengapa orang-orang di luar negeri ketika menghadapi permasalahan yang ada terasa lebih eksklusif, sementara di Indonesia tampak lebih santai. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan budaya dan konteks sosial dapat memengaruhi cara manusia berinteraksi serta merespons setiap permasalahan yang ada.

Penulis Majesti Anisa

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Pembaruan Terhubung