Jakarta, 12 Juni 2024 – Program Layar Tandang kembali hadir di Jakarta dengan menampilkan berbagai film yang menggambarkan keberagaman cerita dan isu yang ada di Indonesia. Diskusi interaktif yang melibatkan para filmmaker, moderator, dan penonton berlangsung meriah, dengan pembahasan dari film yang ditayangkan.
Pada program Layar Tandang: Jakarta Sewon Screening 10 bertemakan “Persistence”, film-film yang terpilih menyoroti tema kegigihan baik dalam cerita maupun medium sinematik. Mozad, salah satu programmer dari Layar Tandang: Jakarta, menjelaskan bahwa salah satu film yang ditayangkan adalah “Awal (Nasib Manusia),” yang menggambarkan perjuangan seorang sineas muda untuk mengharumkan nama bangsa di Rusia setelah ditolak di negaranya sendiri. Proses kurasi dilakukan secara kolaboratif bersama Sinemaflex, melibatkan diskusi panjang antara Mozad, Annisa, dan Akbar dari Sinemaflex. Dari total delapan film, terpilihlah empat film yang mewakili kedua pihak. Mozad berharap bahwa rangkaian film ini dapat menyampaikan pesan-pesan kegigihan yang beragam kepada penonton di Jakarta dan memicu diskusi yang berarti baik di antara pengunjung maupun kolaborator.
Mozad, juga sebagai moderator, membuka diskusi dengan menyoroti variasi tema dalam film-film yang ditayangkan. Bertrand Valentino, sutradara “Tanda Tangan Sang Bapak”, mengungkapkan bahwa ide filmnya bermula dari tugas mata kuliah dan kasus viral di daerahnya tentang pejabat yang mempromosikan diri melalui bantuan sosial. “Banyak hal yang bisa dimanipulasi realitanya,” katanya, menekankan tema relasi kuasa dalam filmnya.
Argo Brahm, sutradara “Togar Tegar”, menceritakan bahwa filmnya terinspirasi dari kisah orang terdekatnya. “Aku mengangkat cerita ini dari kisah orang terdekat,” ujarnya. Ia juga menantang diri dengan penggunaan teknik long take untuk menggambarkan kekacauan dalam satu malam.
Gilang Bayu Santoso, sutradara “Awal (Nasib Manusia)”, memulai dengan minatnya pada sejarah dan bertemu dengan komunitas di Baturaden yang memberikan cerita menarik. “Setelah itu, aku minta kontak mereka dan lanjut ke proses riset,” jelasnya.
Reni Apriliana, sutradara “Ludruk: Dahulu, Kini, dan Nanti”, berbicara tentang perjalanannya menonton Ludruk di Ponorogo yang melibatkan komunitas transpuan. “Kita memulai perjalanan riset tersebut setelah menonton pertunjukan Ludruk Tobong,” katanya.
Argo Brahm menyatakan tidak ada perubahan signifikan dalam konsep filmnya. Bertrand Valentino juga mengungkapkan hal serupa, namun beberapa adegan harus dipotong selama produksi karena keterbatasan waktu dan dana.
Gilang Bayu Santoso berbagi pengalaman menghadapi kendala bahasa dan budaya saat berkomunikasi dengan Bapak Awal Uzhara, tokoh utama dalam filmnya. “Beliau sudah 50 tahun tinggal di Rusia, jadi ada barrier bahasa yang harus diatasi,” ujarnya.
Penonton juga aktif dalam diskusi, dengan Indigo mempertanyakan teknik long take dalam “Togar Tegar” dan metafora dalam “Tanda Tangan Sang Bapak”. Bertrand Valentino menjelaskan bahwa penggunaan tai (kotoran) sebagai metafora adalah hasil dari diskusi informal tentang politik di Klaten. Sasa, penonton lain, mengajukan pertanyaan kritis tentang definisi keluarga dalam “Togar Tegar”, yang dijawab oleh Argo Brahm dengan penekanan pada self-exploration tokoh utama.
Diskusi juga melibatkan perwakilan dari Sinemaflex dan Sewon Screening. Arka dari Sinemaflex menjelaskan bahwa mereka ingin menjadi organisasi yang fleksibel dengan berkolaborasi bersama komunitas yang memiliki visi serupa. Ardi dari Sewon Screening menambahkan bahwa mereka berfokus pada apresiasi film tanpa konsep awarding, meskipun di tengah banyaknya festival.
Sinemaflex berencana melanjutkan pengadaan screening dan diskusi dengan kemasan yang berbeda, serta merencanakan festival. Sewon Screening akan mengadakan beberapa pre-event di Yogyakarta dan berupaya mengkultivasi serta mengaktivasi arsip Official Selection untuk berbagai kebutuhan pemutaran.
Program Layar Tandang: Jakarta tidak hanya menyajikan film-film berkualitas, tetapi juga memperkaya diskusi seputar proses kreatif dan tantangan dalam dunia perfilman. Kolaborasi antar komunitas sinema ini diharapkan dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi perfilman Indonesia.
Penulis Nurul A’mal Mustaqimah
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira