Layar Fakultas Seni Pertunjukan Pre-Event Sewon Screening 10: Kolaborasi Dua Dunia yang menyatu dalam karya (Seni Pertunjukan dan Film)
Yogyakarta, 30 Agustus 2024 – Dalam perjalanan merayakan satu dekade Sewon Screening, kolaborasi kreatif antara Sewon Screening dan Fakultas Seni Pertunjukan digelar sebagai salah satu program pre-event yang inspiratif. Acara ini dirancang untuk memperlihatkan bagaimana dua dunia dapat menyatu yaitu dunia sinema dan seni pertunjukan. Acara ini berlangsung meriah pada hari Jumat, 30 Agustus 2024 di Boulevard ISI Yogyakarta, dengan open gate pukul 18.00, dan terbuka untuk umum. Ada empat film yang dipilih untuk ditayangkan yaitu “All Eyes On me,” “Behind The Stage,” “It’s Wijilan,” dan “Garden Amidst The Flame” yang dimana film-film tersebut mengangkat tema-tema seni pertunjukan dalam berbagai wujudnya, memperkenalkan bahwasanya seni itu luas dan ekspresif, dapat ditunjukkan dengan medium apapun. Sewon Screening sendiri berangkat dari festival film mahasiswa yang berfokus pada eksebisi dan apresiasi film, dimana kegiatannya sudah dimulai sejak tahun 2005.
Acara dibuka dengan pembacaan sajak yang indah tentang perempuan dan sebuah tarian dari teman-teman fakultas seni pertunjukan yang bertajuk “Wanodya” yang artinya perempuan. Penampilan tersebut sangat memukau yang mendapat riuh tepuk tangan. Kemudian kata sambutan dari perwakilan BEM FSP yang menjadi rekan kerja sama Sewon Screening kali ini. “kami dari BEM FSP mengucapkan selamat atas terselenggaranya acara ini dengan turut melibatkan kami sebagai rekan kerja sama dalam menjalin kerja sama untuk kedepannya. Harapan kami dengan adanya kerja sama ini bisa kami teruskan ke tahun yang akan datang sebagai bentuk bukti bahwa antar fakultas mahasiswa, rekan kerja, solidaritas kampus ISI Yogyakarta dan masyarakat yang terlibat masih dalam lingkup dan tujuan yang sama yaitu mengambil bagian dari acara ini,” ucap Lorainne.
Keempat film yang di pilih telah melalui proses seleksi yang tidak sembarangan. “Sebenernya kalo film itu dari saran ya, yang udah di fix dari nonton itu “Behind The Stage” dulu, terus abis itu All Eyes On Me, lalu ada rekan kerja kita yang perwakilan mengunjungi Jaff Archive, terus disitu didapatlah film “It’s Wijilan” itu, terus kami rasa harus ada perspektif untuk mewakili tari dari film yang lain, lalu dipilih “Garden Amidst The Flame” itu gara-gara ada satu orang yang menyarankan setelah itu di preview dan cocok sih,” ujar Afta salah satu programmer saat ditanya proses menemukan film-film yang ditayangkan.
Afta juga mengatakan kalau di Layar Fakultas Seni Pertunjukkan ini ingin mengangkat orang-orang yang terpinggirkan, yaitu dalam artian orang-orang yang tidak pernah dilihat seperti perempuan, anak-anak, orang-orang yang jarang diperhatikan di industri, rasanya semua didominasi oleh lelaki. “Kalo aku sendiri kenapa setuju film-film itu dijadikan satu harapanku itu agar bisa mengenal bentuk sih karena di film ini kan kita mengenal bentuk eksperimental dari “All Eyes On Me” dan “Garden Amidst The Flame,” terus juga medium fiksi di “Behind the Stage,” juga medium dokumenter di “It’s Wijilan” yang mana semuanya itu akhirnya mengangkat seni pertunjukkan itu sendiri. Harapannya orang lebih mengenal seni pertunjukkan itu sebagai hal yang luas. Karena ya berseni itu kan berekspresi, kebebasan berekspresi,” tutur Afta.
Film-film yang ditayangkan membuka ruang diskusi bagi penonton dan filmmaker, “All Eyes On Me” yang disutradarai Sarahdiva, menyuratkan tentang standar yang dibebankan kepada perempuan untuk bersolek, yang sering kali tidak diberi kebebasan untuk berekspresi dengan sendirinya. Film ini sendiri berangkat dari tugas film eksperimental yang mana semua anggotanya adalah perempuan.“Akhirnya kita coba cari yang dekat dengan kita sebagai perempuan tentang badan perempuan tentang struggle sebagai perempuan dan karena film eksperimental jadi kita sepakat untuk tidak pakai dialog pake musik eksperimental” Tutur Maria, Editor film tersebut.
Film “Behind The Stage” karya Adith Ath-Thaariq, yang bercerita tentang proses dibalik layar sebuah pementasan, memperlihatkan tanggung jawab dan tekanan yang dihadapi oleh seorang pemimpin di balik layar. “Ini sebenarnya karya kolaborasi, latar belakang ku, aku tiga tahun di pertunjukkan, malah lebih lama di pertunjukannya dari pada di film. Nah disitu aku banyak ikut proses kolaborasi. Ini tuh sangat challenging dimana gabungin dua workflow yang pertama workflow film yang kedua orang-orang pertunjukkan. Temen temen pertunjukkan itu biasanya fleksibel, improvisasi, nah kedua hal tersebut dibenturkan, itu jadi proses yang menarik sebenarnya. Ini film tentang membuat pentas yang pentasnya ada beneran. Temen-temen film bikin film temen-temen pertunjukkan bikin pertunjukan. Jadi disini kesadaran berkarya itu sama-sama berkarya. Jadi saling sinkron. Ini lumayan menarik. Ada 150 orang yang terlibat total dimana 70 orang itu orang pertunjukan sisanya film jadi ini campur,” tutur Adith.
Lalu film “It’s Wijilan” karya Alexander Sinaga yang merupakan film dokumenter tentang pemberdayaan anak-anak melalui musik hip hop di lingkungan Kampung Wijilan, Yogyakarta. Alex menceritakan tantangannya dalam produksi film ini, “Tantangan paling sulit ya kita jarang sekali berurusan dengan anak-anak kecil, mulai sesi workshop sesi menulis sesi bikin musik itu ada yang berantem ada yang nangis, tantangannya adalah untuk belajar bareng dan main bareng,” kata Alex.
“Garden Amidst The Flame” karya Natasha Tontey menjadi film penutup yang tak kalah memukau, sebuah film fiksi yang mengeksplorasi dunia akil baligh seorang perempuan muda Minahasa melalui lensa fantasi yang kaya dan penuh makna.
Film-film yang ditayangkan mendapat apresiasi meriah dari para penonton dan memberi pengalaman menonton yang baru. Terhitung sekitar 350 orang menghadiri acara ini. “Vibes nya asik, menarik juga, ada tarinya juga tadi bagus menarik. Mc nya juga asik. Eventnya menarik sih bisa jadi referensi juga anak anak baru di ISI” kata Slevin dan Bagus.
Lebih dari sekadar sebuah perayaan satu dekade Sewon Screening 10. Kolaborasi ini membuka peluang untuk mengeksplorasi lebih jauh potensi kreatif yang dapat dihasilkan melalui kerjasama. Acara ini juga memperkuat ikatan antar fakultas yang ada di ISI Yogyakarta. Diharapkan akan banyak kolaborasi lain yang dijalin untuk mempererat hubungan sebagai sesama pegiat seni.
Penulis Vitriya Ningrum
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira