Bandung, 6 Juni 2024 – Program Layar Tandang hadir di Bandung dengan sambutan hangat dari berbagai pihak. Dalam kolaborasi dengan Bahasinema, acara ini bertujuan untuk mempererat silaturahmi, saling berbagi ilmu, dan memperkenalkan karya-karya film lokal yang sarat akan pesan hidup.
Shelfira, perwakilan dari Bahasinema, mengungkapkan harapannya agar acara ini bisa menjadi ajang saling berkenalan dan memperkuat jaringan antar insan perfilman. “Persistence merupakan respon dari kedua belah pihak, bagaimana manusia merespon masalah di kehidupan baik secara personal maupun komunal,” ujarnya.
Sementara itu Jidan, programmer Layar Tandang: Bandung menyoroti pentingnya kegigihan dalam menghadapi realitas kehidupan, yang diharapkan dapat tercermin dalam empat film yang diputar.
Diskusi film menjadi bagian penting dalam acara ini, sayangnya dari keempat film yang tayang, hanya dua filmmaker yang berkesempatan hadir dalam sesi diskusi, yaitu 1 (Satu) oleh Radika dan Oh Darling! oleh Abdalah. Radika berbagi latar belakang pembuatan film 1 (Satu), yang awalnya ingin mengangkat kisah tukang becak di era modern namun beralih fokus ke Bu Sugiarti karena keunikan ceritanya yang mengingatkan pada sosok ibu sendiri. Tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketidakpastian subjek pada hari syuting. Namun, berhasil diatasi dengan memilih subjek baru.
Abdalah, dengan film Oh Darling!, berbagi tentang proses kreatif dalam program Bandung Commission dan bootcamp film ceria, semacam beasiswa film untuk anak SMA yang kurang beruntung. Tantangan yang dihadapi adalah menyeimbangkan produksi film berkualitas dan memberikan pendidikan kepada para kru muda dalam waktu singkat.
Pertanyaan dari penonton mengenai proses riset dan pengembangan karakter Pendi dijawab dengan penuh antusias. Radika menjelaskan bahwa riset untuk film Satu memakan waktu sekitar empat bulan, lebih fokus pada kegiatan subjek. Sementara Abdalah mengungkapkan bahwa pengembangan karakter Pendi di Oh Darling! merupakan hasil diskusi mendalam antara filmmaker dan aktor.
Ketika ditanya mengenai gagasan utama antara lingkungan dan sarkas pejabat dalam Oh Darling!, Abdalah menegaskan bahwa persepsi penonton adalah yang utama. “Tergantung yang mana yang lebih ditangkap penonton,” katanya. Mengenai kelanjutan film, ia menyatakan bahwa film ini sudah cukup dengan pesan yang disampaikan, meskipun ada harapan untuk melanjutkan developmentnya.
Radika menyatakan bahwa ruang eksibisi dan apresiasi seperti Sewon Screening sangat penting bagi para filmmaker. Abdalah menambahkan bahwa layar tandang adalah langkah luar biasa yang sangat dibutuhkan untuk menghubungkan filmmaker dengan penonton yang mungkin bukan dari kalangan film.
Kesan penonton juga sangat positif. Mereka merasa acara ini sangat menyegarkan dan menggerakkan dengan tema dari film yang ditayangkan berani dan menyentuh. Harapan mereka agar acara dengan tema seperti ini terus dieksplorasi di masa depan.
Setelah penayangan dan sesi diskusi film, diskusi dilanjutkan dengan Robi dari Bahasinema dengan menyoroti latar belakang terbentuknya Bahasinema yang awalnya hanya untuk satu circle saja dan kemudian diperluas untuk kalangan umum. Tantangan terbesarnya adalah menghadapi pandemi dan memastikan pemutaran film tetap menarik penonton.
Mengenai arsip film, Bahasinema sejauh ini masih fokus pada film-film dari Bandung. Ke depannya, perayaan 10 tahun Bahasinema akan diisi dengan banyak agenda, termasuk movie week dan perayaan sinema sepanjang tahun.
Program Layar Tandang: Bandung tidak hanya menjadi ajang eksibisi film, tetapi juga memperkuat hubungan antar komunitas film dan menumbuhkan apresiasi terhadap karya-karya lokal.
Penulis Winata Putra Satria
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira