Surakarta, 2 Juni – Sewon Screening kembali di tahun ke-10 dengan program pertamanya di pre-event yaitu Layar Tandang: Solo. Program ini berlangsung di kampus Institut Seni Indonesia Surakarta, berkolaborasi bersama HIMAFISI dan Sinema Akhir Tahun. Layar Tandang merupakan program pertama pre-event Sewon Screening 10 yang akan berlangsung di lima kota Indonesia. Menurut Ardi, selaku Festival Director, ‘Tandang’ berarti mengunjungi. Penamaan program ini sesuai dengan tujuan Sewon Screening, yang ingin saling bertukar energi dengan komunitas-komunitas yang telah menemani selama 9 tahun terakhir dan memperluas relasi. Harapannya, Sewon Screening dapat terus merajut tali silaturahmi dengan komunitas-komunitas tersebut. Di setiap kota, Layar Tandang akan berkolaborasi dengan komunitas setempat, serta mengundang komunitas baru untuk berjejaring dan menambah relasi sebagai teman baru Sewon Screening ke depannya.
Layar Tandang: Solo menayangkan empat film yang dikurasi bersama kolaborator dari Institut Seni Indonesia Surakarta. Menurut Aydan, selaku Programmer, film yang ditayangkan dalam program Layar Tandang: Solo ini disesuaikan dengan tema besar Sewon Screening 10 yaitu ‘Persistence’. Empat film yang tayang antara lain berjudul “Adegan yang Hilang dari Petrus Draft #4”, “Sepanjang Jalan Satu Arah”, “Suara di Antara Aksara”, dan “Rita dan Kebun Absurd”. Filmmaker dari ketiga film antusias saling berbagi melalui media daring yaitu Zoom.
“Sepanjang Jalan Satu Arah”, “Suara di Antara Aksara”, dan “Rita dan Kebun Absurd” adalah film yang berangkat dari kedekatan dan pengalaman pribadi, jelas para filmmaker melalui diskusi daring yang berlangsung setelah penayangan film. Bani Nasution membuat film yang menggabungkan unsur fiksi dan dokumenter, mengangkat cerita dari rumah dan keluarganya sendiri. Politik di tahun 2015 membuat jarak antara Bani dan keluarganya karena perbedaan pendapat. “Sepanjang Jalan Satu Arah” merubah cara pandang politik dalam keluarga Bani dan penonton yang ikut merasakan momen tersebut. “Suara di Antara Aksara” juga merupakan film dokumenter yang realistis bagi filmakernya, Andini Pradya Savitri, karena baginya, peduli tentang orang lain merupakan bentuk kepedulian pada dirinya sendiri. Dalam film “Suara di Antara Aksara” menceritakan seorang anak yang menderita sindrom Waardenburg, yaitu mempunyai mata biru dan kesulitan mendengar hingga membutuhkan alat bantu dengar dan bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB). Andini Pradya Savitri juga merasakan hal yang sama, di mana telinga sebelah kirinya sulit mendengar hingga mengharuskan dia menggunakan alat bantu dengar. Film ini diangkat dengan tujuan menyadarkan kepedulian masyarakat terhadap sesama manusia, termasuk para disabilitas. Film ketiga, “Rita dan Kebun Absurd”, berangkat dari curhatan sang sutradara sendiri mengenai soal percintaan yang sudah dia lalui. Mulai dari senang berkencan hingga ditinggal selingkuh, Adam Winter Sardlee membentuknya menjadi film jenaka yang menghibur penonton di akhir penayangan film program Layar Tandang: Solo.
Beberapa penonton memberikan kesan terhadap penayangan film pada program Layar Tandang: Solo. Salah satu penonton mengatakan, “Penayangan film pada program ini dimulai dengan film yang berat, kemudian beralih ke film yang lebih fun. Acara ini diakhiri dengan film absurd yang menarik untuk dijadikan bahan diskusi.”
Review film yang telah tayang di program Layar Tandang: Solo bisa dibaca pada laman web Sewon Screening dan Layar Tandang selanjutnya akan tayang di Bandung, Bali, Malang, dan Jakarta.
Penulis Nurul A’mal Mustaqimah