Layar Utama: Sementara untuk Selama-lamanya - Ada Cahaya di Penjuru Bumi
Yogyakarta, 26 September 2024 – Disaat Matahari menutup total sinarnya dan angin berhembus kencang dari Selatan membuat kami semakin semangat untuk berjejaring. Mencari obrolan baru, berdansa bersama, dan duduk satu meja di Stage Sewon Screening. Nyatanya, kami semua disini masih percaya bahwa akan ada seribu malam yang menanti, ada esok hari yang kami harap bisa lebih menyenangkan daripada malam ini. Maka daripada membuang peluang menonton program Layar Utama Sewon Screening, kami sabar dan mengantri panjang demi bisa mendapatkan kesempatan menonton film dari belahan penjuru negeri, berharap mendapat pengalaman baru, tentang keberagaman makhluk hidup.
Program Layar Utama: Sementara untuk Selama-lamanya mungkin menjadi salah satu yang terbaik karena menayangkan film-film berkualitas seperti; “Gereja Di Seberang Sana”, “Wijanasu”, “Sejauh Mata Memandang”, “Laut Masih Memakan Daratan”, dan “Negeri Di Dalam Samudera” yang tidak hanya bisa dipahami persoalan kekurangan makhluk hidup saja, namun ternyata ada hal kompleks yang terjadi pada adegan dan kami yang menonton dipaksa untuk menerima hikmah pada setiap perjalanan mereka.
“Nah sebagai manusia itu kita cuma makhluk yang bisa mencoba tapi dalam prakteknya kita sering mengejar kesempurnaan dalam percobaan itu padahal poinnya adalah menerima. Apapun yang terjadi yang kita jalankan sekarang itu adalah takdir Tuhan. Kita sebagai manusia itu selalu hidup dalam kesementaraan, tiap kali ada kebahagiaan cuma sementara, tiap kali ada sedih ya cuma sementara apapun itu ya semuanya tentang kesementaraan itu,” ujar Afta selaku programmer dalam program Layar Utama: Sementara untuk Selama-lamanya.
Saya sepakat dengan statement Afta, terlebih setelah menonton film-film yang ditayangkan, seolah membuka jendela baru mengarah langsung kepada kenyataan yang terjadi di salah satu penjuru negeri ini. Menurut saya, satu hal yang menarik menjadi penonton Sewon Screening adalah kita menyadari fungsi sebenar-benarnya film yang tidak hanya dinikmati namun juga bisa membuat penonton memiliki banyak wawasan.
Ada empat filmmaker yang dapat hadir di program Layar Utama: Sementara untuk Selama-lamanya, yaitu Osama Al Madani, Valda Cikalputri, Afif Fahmi, dan Amelia Syafira. Keempat dari mereka memiliki satu kesamaan, yaitu ingin memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat lain, ada perasaan ganjal, dan semua orang harus tau topik ini.
“Yang membantu mereka adalah donatur. Aku sebagai filmmaker nggak bisa ngasih uang, jadi aku berusaha semaksimal mungkin, berjuang lewat film,” ujar Afif Fahmi selaku filmmaker dari “Laut Masih Memakan Daratan”.
“Ketika kita sudah duduk disini nggak ngerasain banjir, adalah salah satu yang perlu di syukuri nikmatnya. Oh ternyata ada ya orang-orang yang bertahan di tengah dunia ini,” ujar Amelia Syafira, filmmaker dari “Negeri Di Dalam Samudera”.
Namun, terlebih daripada itu, haruskah kita bertanya-tanya, memangnya harus lewat film? Mungkin pernyataan dari Valda Cikalputri di bawah ini bisa menjawab.
“Jadi yang bisa didapat dari film ini adalah, mengenalkan prinsip kalau kita sesama makhluk hidup lalu sekecil apapun yang dirasakan manusia bisa berdampak besar bagi makhluk lainnya,” Ujar Valda Cikalputri, filmmaker “Wijanasu”.
Saya pribadi cukup terpukau dengan pernyataannya di ujung acara. Kita memang tidak perlu menunggu untuk berbuat sesuatu yang baik bagi orang lain. Mulai dari hal kecil dulu, dan kebiasaan-kebiasaan kecil akan memiliki dampak yang sangat besar bagi orang lain. Yang paling kita sering dengar dari ucapan orang lain, mungkin kita bisa mulai mengucapkan hal-hal baik terlebih dahulu, seperti memuji dan apresiasi. Dampak yang dihasilkan pastinya akan sangat besar.
Sutradara dari film “Gereja Di Seberang Sana”, Osama Al Madani berkata, “jadi membuat film ini adalah proses bertoleransi itu sendiri dan aku banyak belajar mengenai toleransi. Semoga bisa merefleksikan penonton yang memberikan sebuah hal yang bisa kita petik.”
Diskusi menyenangkan, membuat kami terbentuk dan berharap semoga akan ada diskusi-diskusi berkualitas seperti saat ini. Jangan lewatkan program main event Sewon Screening 10 yang berlangsung sampai dengan 28 September 2024, turut merayakan satu dekade perjalanan festival yang penuh makna. Ikuti terus informasi lebih lanjut melalui di laman resmi sewonscreening.isi.ac.id dan akun instagram @sewonscreening.
Penulis Satya Din Muhammad
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira