Memantik Api Mentalitas Kegigihan Manusia Dalam Layar Tandang Malang

Malang, 9 Juni 2024 – Masing-masing manusia memiliki keinginan dalam mencapai apa yang menjadi impiannya. Untuk merealisasikan keinginannya, manusia membutuhkan motivasi. Dengan motivasi, manusia bisa memantik mentalitas kegigihan dalam dirinya. Sewon Screening 10 mempresentasikan berbagai macam bentuk kegigihan dalam roadshow pre-event-nya di Layar Tandang: Malang dengan menghadirkan empat film sebagai perwakilan dari pemantik api kegigihan dalam diri manusia. Mulai dari perspektif kegigihan sineas dengan filmnya dalam “Film Adalah Hidupku,” usaha mempertahankan eksistensi diri dari gempuran bisnis dalam “Oskab Geger Geden,” usaha manusia menemukan jati dirinya di tengah krisis dalam “Anxietus Domicupus,” hingga representasi ketika ruang aman bagi diri manusia justru menimbulkan ancaman dalam “Masa: When The Blue Moon Comes Up.”

Program yang dihadirkan pada Layar Tandang: Malang membawa perspektif baru bagi para penonton yang hadir dan turut meramaikan acara pada Minggu, 9 Juni 2024, di Malang Creative Center. Para penonton duduk lesehan sambil mendengarkan pembukaan dari pihak kolaborator, yakni Proyeksi Besok Lagi yang diwakili oleh Aldis, lalu dilanjutkan oleh Magnis, Festival Manager Sewon Screening 10, dari pihak Sewon Screening.

“Saya berterima kasih kepada teman-teman kolaborator, Proyeksi Besok Lagi, dan teman-teman komunitas yang sudah menyempatkan hadir dan dapat menikmati acara ini. Hari ini bisa sangat ramai dan penuh. Acara ini tidak bisa terwujud tanpa kegigihan dari teman-teman yang sudah mempersiapkan acara ini dari pagi sampai sekarang. Adanya pre-event ini kami harapkan bisa menjadi jembatan antara komunitas dan Sewon Screening untuk bertemu, ngobrol, dan menjalin silaturahmi, sebelum akhirnya kita bertemu pada main event Sewon Screening 10,” ucap Magnis, Festival Manager Sewon Screening 10.

Setelah penayangan film, diskusi turut mewarnai bagian dalam pemutaran pre-event Layar Tandang ini. Sebelum diskusi dimulai, kedua pemandu acara, Duta dan Zidan, bertanya kepada penonton tentang film apa yang paling mereka suka atau yang membuat mereka terkesan. Berbagai jawaban muncul dari penonton. Ada yang menjawab “Anxietus Domicupus” karena bentuk dan bahasa dalam film yang unik. Salah satu penonton menyukai “Masa: When The Blue Moon Comes Up” karena mempertanyakan apa yang terjadi selanjutnya dalam film, lalu ada juga yang menjawab “Film Adalah Hidupku” karena relate dengan kehidupan filmmaker saat ini. Penonton juga menyukai “Oskab Geger Geden” karena mengundang gelak tawa dari karakter ibu-ibu penjual bakso yang saling bersaing.

Filmmaker dari keempat film hadir baik secara langsung maupun melalui diskusi online. Rendro Aryo selaku sutradara “Film Adalah Hidupku,” Gugun Arief selaku sutradara “Anxietus Domicupus,” dan Alfarizi Dwi Saputra selaku sutradara “Masa: When The Blue Moon Comes Up” hadir dalam diskusi. Sayangnya, Dzauqy F. Ilham selaku sutradara “Oskab Geger Geden” belum bisa hadir berdiskusi bersama penonton saat itu. Diskusi berjalan dan dipandu oleh Fahmi selaku moderator dari pihak kolaborator. Berbagai pertanyaan muncul saat diskusi berlangsung.

Bagaimana awal api kegigihan ini dipantik untuk membuat karya ini muncul?

(Gugun Arief) “Anxietus Domicupus” dibuat saat menghadapi depresi di tengah pandemi. Latar belakang film ini diproduksi adalah bagaimana kita tetap berkarya di tengah pandemi dan bertahan secara mental.

(Alfarizi Dwi Saputra) Kegigihan yang dipantik dari pembuatan film “Masa: When The Blue Moon Comes Up” adalah pembuatan film di tengah pandemi. Berusaha membuat film di tengah keterbatasan untuk memenuhi syarat kelulusan.

(Rendro Aryo) Membuka kembali kenangan mengenai bagaimana membuat film secara otodidak, serta mengenang dan menilik 10 tahun ke belakang adanya “Film Adalah Hidupku.”

Untuk Gugun Arief, kenapa film “Anxietus Domicupus” memakai visual semacam animasi? Apa yang melatarbelakangi? Apakah film itu merupakan eksperimen?

(Gugun Arief) Latar belakang dari penggunaan animasi adalah karena pada waktu itu belum menemukan karakter yang pas dari cerita. Akhirnya, mencoba eksperimen lewat post-production.

Dalam memantik api kegigihan, setiap filmmaker mempunyai capaian pada karya film yang telah mereka buat. Menurut Alfarizi, capaian yang ingin didapat dari film “Masa: When The Blue Moon Comes Up” adalah saat filmnya masih punya kesempatan untuk bertemu dengan penontonnya.

Gugun Arief menuturkan capaian film “Anxietus Domicupus” dengan menargetkan festival yang spesifik, diharapkan filmnya mampu membuka peluang yang lebih besar. Ketika film diproduksi secara ikhlas, membuat sebuah karya akan terasa menyenangkan.

“Film Adalah Hidupku” menjadi ajang nostalgia bagi Rendro bahwa manusia dengan kegigihannya bisa menciptakan hal yang dirasa besar. Pertama kali diputar di Malang dan kembali diputar di Malang setelah 10 tahun, Rendro mengatakan jika “Film Adalah Hidupku” adalah sebuah surat cinta untuk sinema.

“Sewon Screening adalah bentuk kegigihan dari mencintai sinema,” jawab Rendro saat sesi diskusi pre-event Layar Tandang: Malang.

Penulis Haniffia Shafa Mahartanti

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Pembaruan Terhubung