Menggali Eksistensi Manusia dalam Layar Utama: Awas, Ada Manusia!
Yogyakarta, 27 September 2024 – Dalam Rangkaian Sewon Screening yang terus memukau, program berjudul Awas, Ada Manusia! sukses menghadirkan sebuah pengalaman menonton yang menggugah emosi dan pikiran. Program ini mengeksplorasi sisi tergelap dan paling absurd dari manusia, menyoroti tema bagaimana manusia berperilaku yang mengunggah kesadaran akan hubungan kompleks antara manusia dan media.
Dipandu oleh MC Ammara dan moderator Jason Ezra Maail, penonton diajak untuk menemukan eksistensi mereka di tengah dunia yang terus berubah. Setiap film dalam program ini memiliki keunikan tersendiri dan mengajak para penonton untuk melihat realitas dari sudut pandang yang tidak biasa.
Terdiri dari 5 film dengan satu tema, diawali oleh Film I Swarnangkara karya Petra Paramita, menceritakan perjalanan seorang pria yang kembali ke hutan masa kecilnya, hanya untuk menemukan kehancuran yang ditinggalkan manusia. Produser Hedwig Dhana menyatakan, “Kami ingin menunjukkan bagaimana manusia sering kali menjadi penyebab kerusakan alam.” Film kedua, Last Chicken on Earth karya Deo Mahameru, mengajak penonton tertawa sambil merenung lewat kisah menegangkan tentang pertikaian di warung ayam. “Film ini adalah sindiran tajam terhadap persaingan kecil yang sering kali memicu masalah besar,” jelas produser Panji Respati. Selanjutnya, Hitler Mati di Surabaya karya Dhamar Jagad Gautama bercerita tentang seorang penjaga makam yang mengklaim menemukan makam Adolf Hitler. Rizki Kurniawan, produser film ini, menyoroti bagaimana sejarah dapat dieksploitasi demi keuntungan pribadi, menekankan absurditas yang sering kali ada di balik narasi besar yang dilapisi dengan visual yang menarik banyak para penonton. Film keempat, Mama Minta Hotspot karya Azzam Firullah, mengaburkan batas antara realitas dan fiksi dalam kisah dokumenter fiktif yang berubah menjadi horor konyol. Samuel Sri, soundman yang hadir dalam diskusi, mengatakan, “Ide ini berangkat dari ketertarikan Azzam terhadap horor tahun 2000-an yang sering kali aneh namun menarik.” Film ini, dengan segala kekonyolannya, menyentuh absurditas dunia modern, di mana teknologi dan supernatural sering kali saling bertabrakan. Namun membuat seluruh penonton tertawa lepas, dan berhasil memberikan reaksi tertawa yang meledak-ledak serta mendapatkan respond yang sangat baik.
Program ini ditutup dengan film kelima, Alif Pengen Punya Pacar, Yuli Pengen Dibonceng Ngabers, karya Fazrie Permana, sebuah kisah cinta monyet yang sederhana namun menyentuh, mengisahkan hubungan yang gagal. Cinta remaja yang naif dibungkus dalam humor satir tentang kecintaan pada motor Aerox. Fazrie, yang hadir via Zoom, menjelaskan bahwa film ini terinspirasi dari fenomena viral di media sosial, menunjukkan betapa dangkalnya beberapa hubungan anak muda masa kini. Meski ringan, film ini menyoroti bagaimana media sosial sering kali membentuk ekspektasi yang tak realistis dalam cinta dan hubungan.
Setelah pemutaran film, program ini membuka lapisan-lapisan makna dari setiap karya, menciptakan dialog yang menyadarkan kita akan kerumitan manusia dengan segala kekonyolannya. Secara keseluruhan, Program Awas Ada Manusia! adalah refleksi tajam tentang manusia dan dunia yang mereka ciptakan, mengungkap konflik, absurditas, dan keegoisan yang mengisi eksistensi kita. Program ini berhasil memberikan pengalaman menonton yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendorong penonton untuk merenungkan arti menjadi manusia di era yang terus berubah.
Sewon Screening 10 akan berlangsung hingga 28 September 2024 di Concert Hall ISI Yogyakarta. Jangan lewatkan kesempatan untuk menonton film-film yang akan menggugah pemikiran Anda. Untuk informasi lainnya, kunjungi laman resmi akun Instagram @sewonscreening.
Penulis Aimee Latisha, Nurul A’mal Mustaqimah
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira