Merayakan 10 Tahun Sewon Screening: Layar Lanskap Yogyakarta Angkat Keberagaman Cerita Lokal

Yogyakarta, 13 Juli 2024 – Sewon Screening 10 mengadakan program pre-event yang menayangkan film-film dengan nuansa Yogyakarta. Program Layar Lanskap Yogyakarta hadir dengan menampilkan berbagai film yang menggambarkan keberagaman cerita dan isu yang ada di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Layar Lanskap Yogyakarta menjadi program pre-event screening film kedua setelah Layar Tandang, yang telah berkeliling ke lima kota di Indonesia. Setelah mengunjungi kelima kota di Indonesia, Layar Lanskap Yogyakarta memberikan ruang diskusi film bagi para sineas Yogyakarta, yang bertempat di Yogyatorium Dagadu Djokdja.

Menurut Ammara, salah satu programer Layar Lanskap Yogyakarta, pemilihan film-film ini bertujuan untuk mengangkat semangat jogjaisme dalam rangka merayakan 10 tahun Sewon Screening yang lahir di Yogyakarta. Keempat film yang ditayangkan, yaitu “Zuhud,” “Pung Ra Rampung Nembung,” “Bambang,” dan “Buruh Seni,” semuanya mengandung unsur kejogjaan atau kejawaan. Energi yang ditampilkan dalam film-film ini selalu semangat, dengan sinergi untuk terus berjuang dan berkarya dalam situasi apa pun.

Proses kurasi film-film tersebut melibatkan beberapa film arsip yang sudah ada di arsip Sewon Screening. Contohnya adalah “Buruh Seni” karya Eden Junjung yang sudah tayang di Sewon Screening 1 dan sekarang ditayangkan kembali karena sesuai dengan tema program dan sebagai bentuk sumbangsih Sewon Screening. Menurutnya film ini legendaris dengan isu yang masih relevan untuk ditayangkan sekarang. Ketiga film lainnya juga dipilih karena kesesuaian tema program.

Harapan dari penayangan keempat film ini adalah agar penonton dapat mengambil intisari dari film-film tersebut, belajar, melakukan muhasabah diri, dan memantik semangat untuk terus berkarya.

Dalam diskusi film yang membahas karya film yang diputar, terungkap latar belakang dan proses kreatif yang unik dari setiap film. Ilham Bagus Mahendra melalui “Pung Ra Rampung Nembung” menggambarkan kebiasaan orang Indonesia yang tidak enakan, dipadukan dengan budaya sinoman yang semakin jarang ditemui. Sementara itu, Eden Junjung dalam “Buruh Seni” menyoroti pengalaman pribadinya sebagai mahasiswa ISI Yogyakarta, dengan kedekatan yang sudah terjalin lama dengan narasumber dan topik yang diangkat, yaitu perjuangan seorang buruh.

Azwar Affrian Affandhi dengan film “Zuhud” mengangkat petuah Yogyakarta, ‘Nerimo ing pandum’, yang direpresentasikan melalui karakter-karakter dalam filmnya. Dia juga menyinggung fenomena generasi sandwich dan tantangan yang dihadapi oleh generasi Z. Yusron Fuadi dalam “Bambang” yang menggunakan long take bertujuan untuk membangun karakter lebih natural menciptakan cerita berdasarkan obrolan ringan tentang pemakaman di Gunungkidul, di mana ada perbedaan mencolok antara pelayat pria dan wanita.

Pesan semangat dari para kreator film ini juga sangat inspiratif. Yusron Fuadi mengajak para sineas untuk langsung syuting tanpa hanya menunggu tugas kampus. Ilham Bagus Mahendra menekankan pentingnya kepekaan terhadap lingkungan sekitar untuk mencari ide film. Eden Junjung mendorong untuk terus belajar dan menonton screening lokal seperti Sewon Screening. Sedangkan Azwar Affrian Affandhi mengajak untuk berani mengangkat isu-isu sensitif, karena banyak kemungkinan yang dapat diangkat dalam film masa kini.

Pengalaman menarik dari para pengunjung Sewon Screening 10 memberikan gambaran betapa acara ini begitu diminati oleh berbagai kalangan. Ketrin, mahasiswi jurusan tari di ISI Yogyakarta, telah beberapa kali menghadiri acara Seon Screening dan merasa sangat terhibur dengan film-film yang ditayangkan. Menurutnya, Sewon Screening adalah pilihan hiburan yang menarik, terutama karena terbuka untuk umum. Dari sekian banyak film, yang paling berkesan baginya adalah “Bambang” karya Yusron Fuadi karena dialog antar karakternya mampu membangun suasana yang relatable dan humor yang mengena.

Pawas, yang sudah menghadiri Sewon Screening sejak tahun lalu, pertama kali mengetahui acara ini dari komunitas kampus di UMY dan Instagram. Ia mengakui bahwa suasana di Sewon Screening selalu menggelegar setiap tahunnya. Meskipun baru dua tahun mengikuti, ia merasa acara ini keren dan sangat berkesan. Film favoritnya adalah “Bambang” karya Yusron Fuadi karena storytelling dan screenplay-nya yang lucu dan bagus.

Sementara itu, Ajo mengenal Sewon Screening dari UKM dan komunitasnya. Sejak tahun lalu, ia sudah mengikuti acara ini dan merasakan vibes yang sangat menyenangkan. Bahkan baru di pre-event saja, ia sudah merasakan atmosfer yang gokil dan homy. Film “Bambang” karya Yusron Fuadi menjadi yang paling berkesan baginya karena meski hanya dengan dialog sederhana, film ini mampu menyampaikan cerita dengan jelas dan menarik.

Sewon Screening tidak hanya menjadi ajang pemutaran film, tetapi juga tempat berkumpulnya para pecinta film untuk berbagi pengalaman dan memperkaya wawasan. Dengan antusiasme yang terus meningkat setiap tahunnya, Sewon Screening membuktikan diri sebagai salah satu festival film yang patut ditunggu. Bagi para pengunjung, seperti Ketrin, Pawas, dan Ajo, Sewon Screening bukan hanya hiburan, tetapi juga sumber inspirasi dan komunitas yang mempererat hubungan memperbanyak relasi.

Penulis Nurul A’mal Mustaqimah

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Pembaruan Terhubung