Merayakan Kesunyian dalam Program Layar Utama: Yang Riuh Berbisik
Yogyakarta, 25 September 2024 – Program Sewon Screening 10 berjudul Layar Utama: Yang Riuh Berbisik telah sukses digelar di Gedung Concert Hall ISI Yogyakarta. Program ini menampilkan lima film yang menggali tema kesunyian, tragedi, dan kenangan pahit dalam kehidupan manusia. Setiap film membawa penonton pada perjalanan emosional yang menyentuh, dengan pendekatan unik yang berbeda.
Film-film yang ditayangkan dalam program Layar Utama: Yang Riuh Berbisik tentunya film yang mengunggah hati, yaitu terdiri dari film “Asa” (Nigel Teguh) – Sebuah dokumenter yang mengisahkan Sekolah Harapan di Tanah Merah, Jakarta Utara, yang berjuang menghadapi masalah hak-hak dasar anak. Melalui perjalanan ini, film menunjukkan harapan dan ketekunan dalam menghadapi tantangan. “Noda Noda Seragam” (Duifadia Dissa) – Fiksi tentang Alvin, seorang remaja yang mencoba menyembunyikan noda darah di seragamnya setelah mengalami perkelahian, menggambarkan bagaimana masalah emosional dapat mempengaruhi hubungan keluarga. “Mikrokosmos” (Aaron Pratama) – Mengisahkan Yanto, seorang pegawai kampus yang menjalani hari terakhir kerjanya dengan melankolis, memperlihatkan bagaimana perjalanan hidup dapat terasa sunyi meskipun dikelilingi oleh banyak orang. “Peluit Panjang” (Yusuf Jacka Ardana) – Dokumenter ini menangkap suasana sebelum pertandingan sepak bola, menyoroti antusiasme dan harapan di tengah kesunyian yang mengintai. “Last Voice for Lost Light” (Yudis Maulana) – Menggambarkan tragedi kehilangan anak yang dialami pasangan Sarip dan Susan, film ini menggugah rasa empati penonton terhadap ketidakberdayaan manusia.
Setelah pemutaran film, sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Zidan Raja berlangsung. Diskusi ini menyentuh perasaan gelisah dan kesunyian yang dialami masing-masing karakter. Para sutradara dan penulis film berbagi pengalaman pribadi yang menjadi dasar cerita mereka.
Yudis Maulana, sutradara “Last Voice for Lost Light”, mengungkapkan, “Kejolak awal yang memotivasi saya untuk membuat film ini adalah kehilangan kakak saya. Ini adalah pengalaman yang mendalam dan saya ingin mengolahnya dalam bentuk film.”
Nigel Teguh menambahkan, “Awalnya ini adalah tugas kuliah, tetapi setelah meriset lebih dalam, saya menemukan kisah unik tentang anak-anak yang berjuang untuk pendidikan meski berasal dari latar belakang yang sulit.”
Duifadia Dissa, yang menggarap “Noda-Noda Seragam”, mengungkapkan bahwa gagasan untuk menyembunyikan emosi adalah tema yang relevan, dan ia menulis ulang cerita dari lingkungan terdekatnya untuk menggambarkan dampak bullying.
Benang merah yang menghubungkan dari kelima film adalah bagaimana masing-masing karya menyikapi kesedihan dan duka. Setiap film menunjukkan perjalanan karakter dalam menghadapi tragedi, dan itu sangat relevan bagi penonton. Mengangkat tema-tema seperti bullying sampai kematian, Ammara sebagai programmer menekankan pentingnya relevansi isu tersebut. “Masalah-masalah ini tidak hanya penting di masa sekarang, tetapi juga akan terus relevan di masa depan. Kami ingin penonton bisa melihat bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi kesedihan,” jelasnya. Film adalah cara yang efektif untuk mengekspresikan perasaan yang sulit diungkapkan. Dengan film, kita bisa menyampaikan ide-ide yang lebih kompleks dan menambah kedalaman pada narasi yaitu cara baru bertutur yang bisa mengubah cara pandang penonton terhadap kesunyian dan kekosongan.
Penonton tidak hanya menikmati film, lebih dari sekedar menyaksikan tetapi juga terinspirasi untuk berkreasi dan mengeksplorasi cara mereka sendiri dalam mengolah ide-ide melalui film. Melalui program Layar Utama: Yang Riuh Berbisik, Ammara dan tim berharap dapat mengajak penonton untuk merenungkan pengalaman hidup yang sering kali terabaikan, dan menemukan keindahan dalam kesunyian. Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan film-film yang bukan hanya menghibur namun juga mengajak kita untuk berpikir dan merasakan lebih dalam tentang hidup di Sewon Screening 10 yang berlangsung hingga 28 September 2024! Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi laman resmi sewonscreening.isi.ac.id dan akun Instagram @sewonscreening.
Penulis Aimee Latisha
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira