Palestine Cinema Archive Sewon Screening 10
Menyuarakan Kegigihan dan Hak Hidup Rakyat Palestina
Yogyakarta, 27 September 2024 – Sewon Screning sebagai sebuah festival film, setiap tahunnya merespon berbagai keadaan geopolitik yang tengah terjadi di dunia. Tahun ini, Palestina tengah dalam keadaan terpuruknya, dimana ada penghapusan dan pelanggaran hak asasi manusia berwujud penjajahan dari Israel yang kian menjadi-jadi. Saking parahnya penjajahan itu, akhirnya memantik adanya pembentukan boikot besar-besaran terhadap Israel. Dari sana, Sewon Screening 10 ingin menunjukkan keberpihakan pada Palestina dengan menghadirkan Special Program: Palestine Cinema Archive.
Berkolaborasi dengan Madani International Film Festival, Special Program: Palestine Cinema Archive ini menayangkan penggabungan empat jenis film yaitu eksperimental, dokumenter, animasi, dan fiksi. Film yang ditayangkan merupakan film-film lawas dari tahun 1970 hingga 2018, diambil dari arsip program ‘From The River to The Sea’ milik Madani International Film Festival. Film-film ini diantaranya ada “The Visit” (Kais Al-Zubaidi), “I Signed The Petition” (Mahdi Fleifel), “Missing” (Tariq Rimawi), dan “Ismail” (Nora Alsharif). Keempat film ini menghadirkan kegigihan dari sudut pandang rakyat Palestina, menembus batas usia dan pengalaman.
Sebelum sesi pemutaran keempat film ini dimulai, ada penampilan special showcase free palestine oleh Armada Bunyi Republik Indonesia (ABRI) yang dipelopori oleh Nanang Garuda, salah satu dosen Film dan Televisi ISI Yogyakarta. Showcase ini membawakan pengalaman audio visual dan musikalisasi puisi yang autentik. Hal ini membedakan special program kali ini dengan sesi program pemutaran sebelumnya.
“Free Free Free Palestine,” dilantunkan oleh vokalis ABRI berulang kali diiringi dengan tepuk tangan kompak dari para penonton yang hadir menyaksikan special program ini di Concert Hall ISI Yogyakarta.
Soso, vokalis ABRI yang turut perform dalam special showcase free palestine ini memaparkan mengenai latar belakang band yang baru didirikan ini. Soso mengungkapkan bahwa Raflie Maulana selaku Program Director Sewon Screening 10 sempat mengobrol dengan Nanang Garuda untuk membuat sebuah performance yang merespon dari topik tentang Palestina. Seperti yang diketahui oleh para mahasiswa film di ISI Yogyakarta bahwa Nanang Garuda suka membuat senjata-senjata dari alat musik. Merespon hal tersebut, Nanang Garuda pun mendirikan ABRI bersama teman-teman terdekatnya terutama dari kalangan mahasiswa. Untuk persiapan performance showcase ini dilakukan dalam kurun satu bulan kurang terakhir, dengan frekuensi latihan tiga sampai empat kali.
“Screening-an ini dibuat dengan konsep akibat-sebab. Di mana kalau misalnya orang berpikir secara logis, oh ada sebabnya dulu baru akibat. Tapi kalau di Palestina, itu cenderung kayak Palestina ini udah runtuh duluan baru kita peduli. Atau Palestina ini harus remuk dulu, baru kita bisa lebih melek terhadap isunya. Bisa dibilang ada proyeksi rasa bersalah dari kita secara halus, yang mau kita kenai ke penonton. Di mana terlihat dari susunan filmnya, itu polanya sama-sama akibat-sebab. Nah ketika nggak ada sesi diskusi, jadinya seolah mengembalikan penonton kepada diamnya mereka ketika isu ini naik atau ketika berita tentang Palestina ini berterbaran. Mereka pada awalnya pasif, dikembalikan kepada kondisi itu, setelah mereka dikenai rasa bersalah secara halus, secara psikologis jadi lebih ngena,” ungkap Annisa selaku programmer Special Program: Palestine Cinema Archive ini saat ditanyai alasan ditiadakannya sesi diskusi dengan para filmmaker.
“Kita juga mau dengan nggak adanya diskusi, nggak perlu kata-kata untuk menjembatani rasa empati dari internal diri terhadap Palestina. Jadi maunya kita membuat ruang kontemplatif, biarkan sinema Palestina ini menyentuh hati orang-orang dengan sendirinya. Nggak usah kita jembatani, nggak usah kita konversi,” imbuh Annisa.
Ada beragam kesan yang dirasakan oleh beberapa penonton yang turut hadir dalam Special Program: Palestine Cinema Archive ini. Ada Naila yang mengatakan bahwa dirinya agak terkejut dan antusias dengan adanya performance ABRI, baginya itu tampak keren dan film “Missing” menjadi film yang paling berkesan baginya. Sementara Jonathan menyatakan bahwa film “Ismail” menjadi film yang paling berkesan baginya, ia merasa ikut terbawa masuk ke dalamnya dan merasakan ketegangan yang dihadapi oleh karakter dalam film ini. Fidela dan Fauziyah mengungkapkan bahwa mereka ikut merasakan ketakutan yang dirasakan oleh rakyat Palestina dan jiwa kemanusiaannya tersentil seketika selama menonton performance ABRI. Film “Missing” dan “Ismail” menjadi film yang paling berkesan dan paling mengena bagi keduanya, melihat anak yang terkena dampak dari perang yang terjadi di Palestina. Harapan mereka untuk Sewon Screening ke depannya agar program-program yang dihadirkan semakin bervariasi dan semakin banyak orang yang hadir menonton sebab film-film yang ditayangkan menarik.
Penulis Majesti Anisa
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira