Para Prosais Tak Berprosa, Layar Fakultas Seni Rupa Berbagi Kisah dan Ekspresi Diri Dalam Rupa Film

Yogyakarta, 10 Agustus 2024 – Merayakan satu dekade, tahun ini Sewon Screening kembali menghadirkan kesegaran yang baru. Pada segmen pre-event, Sewon Screening telah melakukan perjalanan ke lima kota di Indonesia melalui program Layar Tandang. Lalu pulang lagi ke Yogyakarta dengan program Layar Lanskap. Kini Sewon Screening hadir dengan program Layar Fakultas Seni Rupa yang diselenggarakan di Plaza Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Program ini telah konsisten diadakan setiap tahunnya, menjadi kolaborasi antara medium film dan medium rupa sebagai wujud perayaan atas bertemunya teman-teman film dari Sewon Screening dengan teman-teman dari seni rupa serta audiens secara luas. 

Para penonton yang baru datang segera diarahkan memasuki gate secara zig-zag untuk menikmati pameran video mapping dan dekor yang merupakan karya dari para mahasiswa Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta. Setelahnya mereka baru melakukan registrasi. Selain itu, juga terdapat stan F&B Sewon Screening 10 yang turut meramaikan acara malam ini, para penonton yang baru datang bisa mampir untuk membeli snack yang bisa dinikmati sembari menunggu sesi pemutaran film. Para penonton kemudian duduk lesehan berjejer rapi di tangga plaza Fakultas Seni Rupa, menghadap pada layar lebar yang berada di bawah naungan pohon besar yang meneduhkan. Seketika lampu dipadamkan, tanda acara dimulai, diputarlah teaser Sewon Screening. Lampu kemudian dinyalakan kembali, Annisa selaku pembawa acara membuka dengan sambutan bahwa malam ini akan diputar empat film yang meleburkan antara seni rupa dan film. 

“Kali ini kita balik ke Jogja, rumah kita, kampus kita, mengangkat tema persistence ini, kegigihan, kita sadar bahwa kita ngga bisa gigih hanya dengan satu lingkaran film saja, melainkan karena film adalah sebuah seni, kita ingin ikut belajar, ikut berbaur dengan teman-teman khususnya di kampus kita dengan teman-teman Fakultas Seni Rupa maupun nanti yang akan datang dengan teman-teman Fakultas Seni Pertunjukan. Oleh karena itu, dengan hadirnya program Layar Fakultas Seni Rupa ini, kolaborasi dengan teman-teman dari Fakultas Seni Rupa, semoga kita bisa lebih gigih dalam berkesenian, tidak hanya dalam satu bidang saja,” sambut Ardi Setiawan selaku Festival Director Sewon Screening 10.

“Terima kasih kepada panitia Sewon Screening yang mampir ke fakultas kita. Selamat untuk memamerkan karya-karya kalian. Dan terima kasih sebesar-besarnya untuk acara ini, karena sudah membuat hiburan di Fakultas Seni Rupa,” sambut Ketua BEM Fakultas Seni Rupa, Pandu Shoka Pratama.

Sebelum sesi pemutaran film dimulai, Annisa selaku pembawa cara memimpin doa bersama. “Melalui perspektif para figur lelaki dalam program ini, kita mampu melihat bagaimana ruang berkarya secara rupa dapat menjadi sarana ekspresi diri yang terdiskoneksi dari segala belenggu, sehingga pada akhirnya mereka tetap sampai pada destinasi akhir, yaitu penerimaan,” ujar Ammara Hasna Taqiyya selaku programmer membacakan catatan program. 

Film ‘Parsan: The Legend of Rajawali’ menjadi pembuka tentang potret pergerakan seorang seniman poster film bioskop yang telah konsisten berkarya selama lebih dari empat dekade. Upaya mengekspresikan diri turut tersambung dengan film ‘Sunday’ yang mengisahkan dinamika hubungan seorang ayah dan anak perempuannya. Sedangkan, dalam membicarakan perasaan yang terkadang sukar untuk diceritakan, film ‘Identitas’ pun berusaha untuk menyuarakan carut-marutnya sebuah peristiwa yang berdampak kepada kehidupan seseorang melalui medium rupa sebagai cara bertutur. Selanjutnya film ‘Draw The Second Life’ menjadi penutup cerita seorang akademisi sekaligus pegiat seni yang tetap berjuang untuk bergelut di dunia berkarya kendati sebuah kondisi sempat membelenggu dirinya.

“Parsan itu terlihat lebih segar. Secara kemasan lebih ringan dan segar daripada tiga film lain yang diputar setelahnya yang dari segi isinya cenderung lebih berat dan ada yang merujuk ke isu juga,” ujar Ammara, salah satu programmer Layar Fakultas Seni Rupa malam ini saat ditanya alasan memilih film ‘Parsan: The Legend of Rajawali’ diputar sebagai film opening. Harapan Ammara dengan pemutaran keempat film tadi bisa dinikmati oleh para penonton, bisa membekas, dan menjadi inspirasi bagi para filmmaker lain untuk membuat film seperti itu, mungkin dari segi bentuknya maupun isu yang diangkat. Harapannya, keempat film ini  tidak berhenti di penayangan Layar Fakultas Seni Rupa saja, tetapi juga bisa jalan-jalan ke program screening yang lain. 

Setelah pemutaran film usai, Annisa selaku pembawa acara kembali menyegarkan para penonton dengan sambutan jargon “Sewon Screening 10” yang kemudian dijawab “Persistence” secara serempak oleh para penonton. Sesi diskusi dengan film maker pun dimulai, salah satu filmmaker diantaranya hadir di Plaza Seni Rupa malam ini yakni Riri Irma Suryani, sementara dua lainnya hadir secara online dan satunya berhalangan hadir secara offline maupun online. Revi Al Ghifari selaku moderator, mempersilakan kepada ketiga filmmaker untuk memperkenalkan diri dengan menyebutkan posisi masing-masing dalam produksi, dan menjabarkan latar belakang pembuatan film masing-masing.

Riri Irma Suryani, salah satu sutradara dari film ‘Parsan: The Legend of Rajawali’ mengungkapkan bahwa film Parsan lahir secara dadakan alias ketidaksengajaan. Produksinya di tahun 2022 dari prodi DKV Institut Teknologi Telkom Purwokerto. Pada waktu itu ada sebuah perayaan International Video Festival, Riri Irma ingin memberi achievement berupa apresiasi kepada tokoh film. Berangkat dari pertanyaan “Adakah sosok di luar pembuat dan pemain film yang bisa diberi apresiasi?” Lalu terdengar kabar bahwa ada pelukis poster film manual di bioskop Rajawali. Tim dari Mbak Riri Irma pun melakukan riset ke Bioskop Rajawali di Purwokerto, mendapati bahwa bioskop tertua itu masih menayangkan film terbaru secara aktif. Mereka menemukan sosok Pak Parsan, seorang juru parkir sekaligus pelukis poster film manual di Bioskop Rajawali. Riri Irma menyebutkan adanya tantangan selama proses produksi film ini dimana sang subjek alias Pak Parsan tidak bisa untuk melihat ke kamera. “Pak Parsan ga bisa liat kamera, langsung nge blank, makanya gambar kita banyak yang cheating, jadi kita taruh kamera, ambil kesehariannya aja,” imbuhnya. Pak Parsan sendiri sudah melukis poster film manual di Bioskop Rajawali selama 30 tahun hingga saat ini, sehingga tim produksi Riri Irma mau memberi apresiasi untuk Pak Parsan melalui medium film ini. Film dokumenter ‘Parsan: The legend of Rajawali’ ini telah masuk dalam beberapa nominasi festival film, salah satunya nominasi JAFF pada tahun 2022. 

Beralih ke J. Henry Noerman, selaku sutradara sekaligus tokoh utama dalam film ‘Identitas’ yang diproduksi pada tahun 2017. Pembuatan film ‘Identitas’ ini didasarkan atas kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup sang sutradara sendiri, dimana Henry tinggal di daerah konflik di Aceh yang kemudian menimbulkan banyak trauma. Henry menyebutkan bahwa ia terinspirasi dari film ‘The Missing Pictures’, sebuah film dokumenter dari kamboja. “Di film itu memang subjeknya menceritakan tentang bagaimana kejadian ketika ada pemberontakan Phnom Penh, nah film itu yang mendasari bahwa saya ingin membuat film ‘identitas’ ini,” ujarnya. Dalam proses kreatifnya, Henry merekam memorinya lalu menulis dan menuangkannya dalam bentuk goresan animasi sederhana. Henry mengakui bahwa saat itu ia belum memiliki kru, yang tadinya berencana untuk membuat film fiksi yang akhirnya tidak jadi, ia pun memilih untuk membuat dokumenter dengan pendekatan hybrid, yaitu gabungan antara fiksi dan dokumenter. Henry ingin membuat suasana dalam film ‘Identitas’ lebih mendekati dengan apa yang dialaminya dengan background musik yang mendukung. Henry menyebutkan bahwa ia ingin melepaskan traumatiknya ketika ia hidup di daerah konflik Aceh. Film ‘Identitas’ ini telah masuk nominasi Festival Film Dokumenter pada tahun 2017, Asian Perspective JAFF pada tahun 2018, lalu bertandang ke Pakistan hingga Filipina, dan telah diputar pada program screening lokal di beberapa daerah di Indonesia.

Ezra Cecio yang akrab disapa Cio, merupakan sutradara dan penulis dari film ‘Sunday’. Cio mengungkapkan bahwa awal pembuatan film ‘Sunday’ ini dikarenakan tugas dari kampus. Cio sendiri menyebutkan bahwa timnya saat itu kebingungan mengenai film apa yang mau dibuat. Setelah menonton sebuah film, terpantiklah dari sana mengenai bentuk cerita yang berbentuk fragmen. Untuk cerita dalam filmnya berasal dari pengalaman pribadi Cio sendiri. 

Sesi tanya jawab pun diawali oleh moderator sendiri yakni Revi Al Ghifari yang menanyakan kepada Cio mengenai alasan memilih dinamikanya hubungan ayah dan anak dan mengapa memilih dinamika itu dan dengan cara penyampaiannya seperti itu dalam film ‘Sunday’. Cio menyebutkan bahwa ia selalu tertarik membahas tentang bapak, dirinya sendiri sulit untuk mengobrol dengan bapaknya, sehingga ia tertarik untuk membuat karakter utama dalam filmnya adalah bapak. Untuk treatment-nya, Cio tertarik storytelling yang berbentuk fragmen dan banyak bermain dengan tanda. 

Lufhiana, salah seorang penonton mengajukan pertanyaan spesifik pada Film ‘Sunday’ mengenai apa yang hendak disampaikan dalam scene dimana ada dialog  yang diucapkan oleh  salah satu karakter dalam film secara berulang-ulang. Cio memaparkan bahwa dialog yang diulang-ulang itu hendak memberikan kesan bahwa itu bentuknya repetitif, konteks dalam film ‘Sunday’ sendiri membahas mengenai anak dan bapak. “Apalagi kita di asia tenggara, Asian parent kan bisa dibilang kurang memberikan kita kebebasan dalam menentukan pilihan hidup.” Cio menjelaskan bahwa karakter anak yang bicara satu hal berulang dalam film itu ingin menunjukkan bahwa anak itu memang tidak punya opsi lain selain itu.

Ada Nurul salah satu penonton yang tertarik dengan film ‘Parsan: The Legend of Rajawali’, ia mengajukan pertanyaan kepada Riri Irma mengenai masa pensiun Pak Parsan. Dari penjabaran Riri Irma, Pak Parsan bukanlah pegawai tetap di Bioskop Rajawali, jadi kemungkinan tidak ada pensiunnya. Pak Parsan sendiri yang usianya sudah menginjak 58 tahun, telah melukis sejak tahun 1991 dan masih aktif hingga kini. Bioskop Rajawali juga masih mempertahankan poster film manual, sampai saat ini belum ada yang meneruskan hal itu, jadinya Pak Parsan masih eksis di sana. 

Kembali lagi dengan sang moderator, Revi Al Ghifari yang mengapresiasi pendekatan hybrid dalam film ‘Identitas’, lewat goresan animasi dalam film itu ia bisa ikut merasakan teror dan trauma yang Henry alami. Revi bertanya pada Henry selaku sutradara dan tokoh utama dalam film ‘Identitas’ itu mengenai alasan memilih animasi sebagai cara bertuturnya. Henry pun membagikan proses kreatifnya, yang bermula hendak membuat film fiksi tapi urung karena tidak mendapat kru. Dalam perjalanannya, Henry mencari bentuk-bentuk yang bisa diluapkan melalui medium film. Ketika Henry menonton film ‘The Missing Picture’, ia mendapati dalam film itu menggunakan media seperti boneka-boneka tanpa digerakkan, hanya stop motion, difoto dan direkam tanpa ada animasi dan merger dengan foto-foto. Dari sanalah Henry terpantik untuk membuat gambar animasi yang menjadi medium cerita dalam film ‘Identitas’ ini. Untuk pendekatan dalam filmnya, Henry tidak secara gamblang menceritakan trauma itu, meskipun di akhir ada beberapa gambar visual yang reflection. “Saya lebih pengen ada perkawinan antara dokumenter sama fiksi, hybrid,” ujarnya.

Lalu ada pertanyaan dari salah satu penonton lagi untuk Henry mengenai proses menceritakan traumanya, apakah itu healing atau malah merasa sedih saat mengingat memori masa lalunya. Bagi Henry sendiri proses itu membantunya melepaskan apa yang terjadi dalam hidupnya, ia juga mendengarkan musik yang membangun energi dalam film ini.  Menurutnya, film ‘Identitas’ ini bisa menjadi trigger traumatik. Namun, juga bisa menjadi arsip untuk tahun mendatang sekaligus menjadi pembelajaran bahwa seorang filmmaker itu berbagi cerita tentang masa lalunya. “Film yang baik itu adalah film yang dekat dengan diri kita sendiri kan,” imbuh Henry.

Di akhir, Revi menanyakan lagi kepada para filmmaker mengenai hal yang ditonjolkan dan disukai dari film masing-masing. Riri Irma dari film ‘Parsan: The Legend of Rajawali’ mengatakan bahwa hal yang paling dibanggakan dari filmnya adalah Pak Parsan akhirnya tersorot media, dimana sebelumnya seakan tidak terlihat karena proses melukisnya memang tidak terlihat, hanya lukisannya saja yang sudah terpajang di Bioskop Rajawali. Menurutnya, itu cukup membanggakan, meskipun tidak banyak mengubah kehidupan Pak Parsan, setidaknya ia bisa melihat apresiasi dari orang-orang terhadap karya Pak Parsan. Cio dari film ‘Sunday’ menuturkan bahwa hal yang ditonjolkan dalam filmnya yaitu storytelling dengan dialog terbatas, dimana lebih memanfaatkan medium yang lain seperti art dan kamera. Henry dari film ‘Identitas’ mengatakan bahwa dari hal yang menonjol dari filmnya adalah cara pembuatannya berupa penggabungan antara dokumenter dan fiksi.

Setelah sesi diskusi dengan filmmaker berakhir, ada penyerahan sertifikat dari Sewon Screening 10 kepada Fakultas Seni Rupa oleh Ardi Setiawan kepada Pandu Shoka Pratama. Layar Fakultas Seni Rupa malam ini pun ditutup dengan sesi foto bersama.

Pada sesi Tanya-Tanya dari Selatan oleh tim sosial media Sewon Screening 10, menjumpai tiga penonton yang turut hadir pada program screening malam ini. Ada Ipi dan Afril, keduanya merupakan mahasiswi Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta, serta Danil mahasiswa UPN Yogyakarta. Melihat pelaksanaan Sewon Screening di Plaza Fakultas Seni Rupa, terkesan intimate bagi Ipi karena menonton bareng di tengah taman mengisi waktu malam minggu ini. Film ‘Identitas’ menjadi film favorit Ipi sebab ia jadi tahu bahwa ada kejadian seperti itu di Indonesia tapi ternyata tidak banyak yang tahu. Ipi menganggap film dokumenter ‘Identitas’ ini sukses mengangkat isunya sehingga orang bisa tahu apa yang terjadi. Sewon Screening kebanyakan menayangkan film pendek yang unik dan Ipi merasa itu belum tersebar secara luas, jadi program ini menjadi ajang bagi Ipi dan juga penonton lainnya untuk melihat film-film yang berbeda dari film komersil biasanya. “Banyak karakter film yang unik-unik dan bisa dieksplorasi lagi,” ujar Ipi.

Sementara bagi Afril ini merupakan tahun ketiganya mengikuti acara Sewon Screening dan untuk yang kedua kalinya menonton di Fakultas Seni Rupa. Cukup menarik baginya, karena di Fakultas Seni Rupa sendiri jarang ada acara malam-malam seperti ini. Film ‘Draw The Second Life’ menjadi film yang paling berkesan bagi Afril, menurutnya tema besar tentang kegigihan itu cukup terasa di film ini, bagaimana ia dan para penonton lainnya bisa melihat perjuangan Pak Kholis yang berhasil sembuh dari penyakitnya dan mencoba untuk memberikan manfaat untuk orang-orang di sekitarnya. Bagi Afril, Sewon Screening merupakan acara yang cukup ikonik dari Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta sendiri. Afril senang bisa melihat teman-teman seperjuangan menghasilkan karya film dan membuat acara seperti Sewon Screening ini. Danil memuji set up pre-event pemutaran Sewon Screening 10 yang tampak sangat keren, ia juga mengapresiasi bahwa ternyata banyak orang yang datang ikut merasakan sensasi serunya. 

Program Layar Fakultas Seni Rupa Sewon Screening 10 ini menjadi wadah eksibisi film dan juga apresiasi kepada para filmmaker, memperkaya diskusi mengenai proses kreatif dan tantangan yang dihadapi selama masa produksinya. Selain itu, program ini juga menjadi medium kolaborasi dari para mahasiswa film dan seni rupa di ISI Yogyakarta. Bagi para penonton seperti Ipi, Afril, dan Danil, Sewon Screening ini menjadi ajang bagi mereka untuk sekadar mengisi waktu luang dengan menonton film-film yang unik dan ikut merasakan sensasi seru dengan beberapa penonton lainnya. Untuk review film yang telah tayang pada program Layar Fakultas Seni Rupa ini dapat dibaca pada laman web Sewon Screening. Nantikan pre-event pemutaran Sewon Screening 10 selanjutnya pada program Layar Fakultas Seni Pertunjukan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. 

Penulis Majesti Anisa

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Pembaruan Terhubung