Pentingnya Menyuarakan Keadilan dalam Special Program: Di Mana Tanah Mama

|

Sorotan

Yogyakarta, 24 September 2024 – Festival film tahunan Sewon Screening telah mencapai usianya yang ke sepuluh tahun. Festival ini sukses melaksanakan program pre-event yang berlangsung dari awal Juni hingga awal September. Hari ini, acara utama Sewon Screening 10 resmi dibuka di Gedung Concert Hall ISI Yogyakarta dengan tema besar Persistence, yang menekankan pentingnya kegigihan, ketekunan, dan konsistensi dalam berkarya.

Film “Mama Lihat Awan Jatuh” dan “Asu Pemige, Sawa pemige” dalam program Special Program: Di Mana Tanah Mama telah dilaksanakan di Gedung Concert Hall ISI Yogyakarta. Film ini mengisahkan tentang Mama Laurensia Yame, seorang perempuan suku Awyu, yang berjuang melawan penggusuran tanah oleh perusahaan sawit yang mengancam kehidupan dan budaya masyarakatnya.

Setelah pemutaran selesai, para penonton berkesempatan mengikuti sesi tanya jawab bersama para pembuat film. Telah hadir Wulan Andayani Putri sebagai sutradara, Fahri Salim mewakili Project Multatuli, Sekar Banjaran Aji dari Greenpeace Indonesia, dan Annisa Mutiara sebagai moderator.

Sesi tanya jawab dibuka dengan pertanyaan mengenai latar belakang pemilihan film ini untuk Sewon Screening. Wulan menjelaskan, “Kami percaya bahwa isu Papua harus lebih banyak didengar. Melalui film ini, kami berharap anak-anak muda lebih peduli terhadap masalah yang dihadapi suku Awyu.”

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah mengenai mengapa film ini menggunakan media sebagai sarana penyampaian. Wulan menekankan, “Film adalah medium yang sangat powerful untuk mengangkat isu-isu sosial. Dengan visual dan audio, film bisa menyampaikan narasi yang lebih mendalam.” Dengan menayangkan dua film dokumenter yang mengangkat isu sosial dan lingkungan di Papua, yaitu Mama Lihat Awan Jatuh dan Asu Pemige, Sawa Pemige ini menyuarakan kondisi masyarakat adat Awyu, sebuah suku di pedalaman Papua yang mengalami berbagai tantangan akibat perubahan lingkungan dan permasalahan sosial.

Melalui program ini, Sewon Screening 10 ingin mengangkat kesadaran publik akan krisis yang jarang dibicarakan di media. Dua film ini bukan hanya tentang Papua, tetapi tentang manusia, alam, dan hubungan yang rapuh antara keduanya. Sebuah kesempatan langka bagi kita untuk mendengar langsung cerita dari tanah yang terpinggirkan, dari sudut pandang masyarakat yang merasakan langsung dampaknya. 

Dalam sesi wawancara, Wulan, menjelaskan bahwa pemutaran film ini adalah bagian dari upaya untuk membangun kesadaran yang lebih luas terhadap realitas yang terjadi di Papua. “Kami bekerja sama dengan lembaga seperti Multatuli dan Greenpeace karena kami yakin bahwa isu Papua perlu lebih banyak disuarakan. Kami berharap film ini ditonton oleh sebanyak mungkin orang di Indonesia, agar mereka menyadari bahwa kehidupan di Papua adalah bagian dari kehidupan kita semua”.

Dari sudut pandang programmer, Mozad, yang terlibat dalam kurasi film ini, menyatakan bahwa alasan utama pemilihan kedua film tersebut adalah relevansi sosial dan lingkungan yang diangkat. “Film ini diangkat karena isu sosialnya yang sangat penting dan relevan untuk dibahas. Kami berharap masyarakat luas dapat menyadari dan memahami masalah ini. Isu lingkungan dan sosial, harus disampaikan kepada berbagai lapisan masyarakat,” ujarnya. Pentingnya film ini dalam membuka dialog tentang permasalahan yang sering terpinggirkan. “Dengan memutar film ini, kami berharap penonton dapat lebih memahami persoalan yang dihadapi masyarakat adat di Papua,” ungkapnya.

Ayo meriahkan program utama Sewon Screening 10 di ISI Yogyakarta! Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi laman resmi sewonscreening.isi.ac.id dan akun Instagram @sewonscreening.

Penulis Aimee Latisha

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Pembaruan Terhubung