Spesial Program : SinemAksi ACFFEST “Satu Dekade Persistensi Lawan Korupsi Lewat Sinema”
Yogyakarta, 26 September 2024 – Ketika kita berbicara tentang korupsi, tentu saja kita juga akan berbicara tentang moralitas. Ini bukan hanya tentang uang yang dicuri dari kas negara, atau tentang kecurangan, ada banyak tindakan korupsi yang sering kali tidak kita sadari itu termasuk korupsi. Contoh kecilnya yaitu siswa yang mencontek saat ujian di sekolah, tindakan itu mencerminkan ketidakjujuran demi mendapatkan hasil menguntungkan, yang dimana jujur itu termasuk dalam sembilan nilai antikorupsi. “Sembilan antikorupsi itu singkatannya” Jumat Bersepeda KK”, Jumat: jujur mandiri tanggungjawab, Bersepeda: berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan KK nya kerja keras.” Ujar Soraya Sri Angarawati dari tim sosialisasi dan kampanye antikorupsi KPK. Tindakan besar berangkat dari tindakan kecil, jika tidak ditanamkan nilai-nilai moral dan antikorupsi sejak dini, apa yang akan terjadi pada generasi muda dalam menghadapi godaan kekuasaan? .
Dalam sebuah upaya mendekatkan publik tentang pentingnya memberantas korupsi yang telah mengakar, Sewon Screening 10 berkolaborasi dengan SinemAksi ACFFEST menghadirkan spesial program yang berlangsung pada 26 September 2024, pukul 15.30, di Gedung Concert Hall, ISI Yogyakarta.
Spesial Program: SinemAksi ACFFEST menayangkan empat film animasi pendek yang mengangkat tema tentang perilaku tindakan korupsi. Keempat film yang ditayangkan yaitu, Terciduk! (Alan Dharmasaputra Wijaya, 2020), Reflection (Indra Firdaus, 2021), Hotdog Pak Rt (Arief Khoirul Alim, 2020), dan Crayon (Vitaria Wennie Handjaya, 2021) .
Keempat film tersebut secara sederhana mengemas kompleksitas isu korupsi, dan karena dikemas secara sederhana tersebut membuat pesan yang disampaikan mudah ditangkap berbagai kalangan. “Menurutku jenis film animasi itu justru menyentuh lebih banyak orang, lebih banyak audiens dan juga range audiens-nya bisa kena, gak cuma anak-anak gitu yang notabene itu menjadi tujuan audiens untuk animasi, tapi juga orang-orang dewasa yang pada dasarnya itu butuh disuapi film-film yang mengingatkan mereka akan memori-memori pada saat masih kecil gitu,” ujar Annisa selaku salah satu programmer saat ditanya alasan kenapa memilih untuk menayangkan film animasi pendek.
“Sewon Screening itu, punya visi yang sejalan dengan ACFFEST, dimana kalo ACFFEST itu berusaha untuk mempromosikan nilai-nilai anti korupsi dan mendekonstruksi bagaimana korupsi itu ga terjadi semata-mata sebagai tindakan koruptor aja loh, tapi ada hal-hal kecil yang kemudian ketika terbangun dan itu secara terus menerus, bisa menjadi tindakan korupsi, bahkan sesimpel yang misalnya kita janjian sama seseorang tapi kita kemudian mengubah regulasi secara diam-diam karena alasannya orangnya ga bakalan tahu, hal- hal yang seperti itu yang ACFFEST berusaha sajikan, dan itu juga persis sama dengan visi Sewon Screening, dengan angin segarnya, dengan persistence nya.” Ujar Annisa.
Setelah sesi pemutaran berakhir, kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama Soraya Sri Anggarawati dari tim sosialisasi dan kampanye antikorupsi KPK, Petrus Kristiyanto produser film Terciduk! , Alan Dharmasaputra Wijaya sutradara film Terciduk! yang hadir secara daring, Indra Firdaus sutradara film Reflection yang hadir secara daring, dan Nissa Fijriani selaku moderator.
Brian, salah satu penonton mengajukan pertanyaan “film Terciduk! dan Reflection inikan sangat menyindir pemerintah banget, apakah ada respon negatif dari pejabat atau pemerintah terhadap kalian?.”
“Kalau film Terciduk! itu sendiri ya memang tidak ditujukan untuk menyindir pemerintah, seharusnya film Terciduk! ini saya berharap suatu hari nanti tidak akan related lagi karena sudah tidak ada korupsi lagi, film ini hanya untuk menertawakan saja, kita-kita ini tertawa.” Jawab Alan sutradara film Terciduk!.
“Sejauh ini ga ada ya, cuman sayakan bikin film itu waktu covid, nah itu juga kegelisahan saya yang dituangkan dalam film tersebut, banyak bansos-bansos yang dinakali.” Jawab Indra Firdaus sutradara film Reflection.
Soraya membagikan cerita bahwa film-film ACFFEST diputar di berbagai macam forum dan programnya KPK, salah satunya Program Politik Cerdas Berintegritas, “kami menayangkan ke 24 partai politik film Terciduk! ini, dari Partai Nasional hingga Lokal. Ketika mereka menonton mereka ketawa. Ketika temen-temen submit di KPK maka KPK akan bawa film temen-temen” ujarnya.
Tapi apa sih ACFFEST itu? Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) merupakan sebuah program perfilman yang diinisiasi oleh Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Anti-Korupsi – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia, dengan menyelenggarakan berbagai program seperti kompetisi ide cerita, ide kreatif kegiatan, film pendek, program pengembangan kapasitas, hingga pemutaran film. Tentu saja ACFFEST ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat mengenai dampak merugikan dari tindakan korupsi dan menyuarakan nilai-nilai antikorupsi agar tindakan korupsi ini tidak mengakar lebih dalam di negara kita.
Film sendiri menurut saya merupakan media yang kuat untuk menyampaikan atau menyuarakan berbagai isu, salah satunya korupsi. Dengan cara tutur yang terlihat sederhana dan dikemas dengan pendekatan yang relatable dalam kehidupan sehari-hari kita, pesan yang coba disampaikan di dalam film dapat dengan mudah dipahami penonton.
“Kita kenal di awal-awal kemerdekaan film itu sebagai propaganda, sebagai media propaganda. Dan sekarang film itu benar-benar gak cuma hanya hiburan, tapi juga jadi media untuk memberikan informasi, memberikan keadaan yang sejujurnya. Media untuk kita bersuara kita untuk kita untuk merespon apa yang sebenarnya terjadi” ujar Petrus Kristiyanto produser film Terciduk! Saat ditanya mengenai film sebagai wadah untuk menyuarakan suatu isu. Ia juga menambahkan bahwa menurutnya, film yang baik itu film yang selesai dan ditonton itu yang paling penting.
“Film pertama tuh pesan-pesan yang disampaikan tuh aku lebih dapet gitu. Lebih cepet untuk nyampenya ke aku gitu. Karena memang dikemas dengan animasi yang mudah dipahami, dengan animasi yang bisa ditonton dari segala umur. Nah, dengan pembuatan film ini dan dengan penyampaian yang mudah dipahami itu akan sangat membantu, orang-orang itu menangkapnya dengan mudah dan orang-orang pun mengerti dari segala kalangan. Bahkan anak kecil juga bisa paham arti dari ini korupsi itu sendiri.” Pendapat Naura dan Syahnaz salah satu penonton.
Kolaborasi antara ACFFEST dan Sewon Screening 10 ini diharapkan mampu membawa angin segar dalam upaya melawan korupsi melalui sinema, dengan harapan suatu hari nanti, korupsi tidak lagi menjadi isu yang relevan di negara ini. Dalam perayaan satu dekade perjalanan Sewon Screening dan ACFFEST, semoga akan terus berkembang, dan melahirkan karya-karya yang dapat memberi banyak inspirasi dan edukasi kepada masyarakat.
Ikuti terus informasi lebih lanjut melalui di laman resmi sewonscreening.isi.ac.id dan akun instagram @sewonscreening.
Penulis Vitriya Ningrum
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira