A Man Who Can't Say Love

- Ulasan Film

Dinginnya Hubungan Keluarga yang Rapuh

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Film “A Man Who Can’t Say Love” menunjukkan dinginnya hubungan antara seorang ayah dengan anak-anaknya. Berfokus pada kesulitan ketika mencoba membuat video ucapan pernikahan untuk anak sulungnya. Melalui usaha ini, Ayah mulai menyadari jarak emosional yang tumbuh di antara dirinya dan anak-anaknya. Kesan yang mendalam dari film ini adalah perasaan kesepian yang dirasakan oleh orang tua yang merasa terputus dari anak-anaknya, seiring berjalannya waktu. Pesan yang dihadirkan bisa merusak hubungan meskipun secara fisik mereka masih bersama. Film ini membawa pesan penting tentang hubungan keluarga yang seringkali terabaikan, terutama tentang cara orang tua yang menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak mereka. Ketidakmampuan ayah untuk secara langsung mengungkapkan perasaan cintanya kepada anak-anaknya adalah inti dari konflik emosional yang terjadi. Pesan penting yang disampaikan adalah bahwa cinta tidak selalu bisa diekspresikan melalui kata-kata, dan terkadang tindakan sehari-hari yang tampak sepele, seperti ayah memberi uang saku atau meluangkan waktu bersama, menyimpan banyak emosi yang tersembunyi. 

Hal yang paling menarik dari film ini adalah cara ia menampilkan kesulitan emosional seorang ayah dalam berkomunikasi. Dialog yang sederhana dan situasi sehari-hari seperti membuat video ucapan dan makan malam menjadi medium untuk menggambarkan jarak emosional yang begitu besar antara ayah dan anak bungsu, Juan. Dinamika hubungan yang kaku dan dingin, terutama saat Juan menolak uang saku dan ajakan makan malam dari ayahnya, sangat menggugah hati karena memperlihatkan perasaan tak terkatakan dibalik interaksi yang terlihat datar. 

 

Selain itu, film ini secara efektif memanfaatkan momen sunyi, seperti ayah sedang menonton video di meja makan yang kosong, untuk memperlihatkan kesepian dan rasa hampa yang dirasakan oleh sang ayah. Hal ini menarik karena kesunyian tersebut memperkuat emosi tanpa perlu dialog berlebih. Keunikan utama “A Man Who Can’t Say Love” terletak pada cara film ini menggali emosi lewat adegan-adegan yang terkesan sederhana namun bermakna. Fokus pada hubungan ayah dan anak dengan segala kecanggungannya sangat jarang diangkat secara mendalam dalam film berdurasi pendek. Meskipun berdurasi hanya 12 menit, film ini mampu menggambarkan pergulatan batin Jefri yang sulit mengungkapkan perasaannya kepada anak-anaknya, terutama kepada Juan.

Film ini menarik karena temanya yang dekat dengan realitas banyak keluarga, di mana kasih sayang dan cinta sering kali terselubung di balik sikap diam atau interaksi yang tampak acuh tak acuh. Film ini mengajak penonton untuk melihat apakah ayah akan mampu memperbaiki hubungan dengan anak-anaknya, atau apakah kesunyian dan jarak emosional akan terus menguasai hidup mereka.

Film ini menggugah emosi mereka yang pernah merasakan sulitnya komunikasi dalam keluarga, terutama antara orang tua dan anak. Dari sudut pandang ini, penonton mungkin akan merefleksikan hubungan mereka sendiri dengan orang tua atau anak-anak mereka. Selain itu, penonton juga dapat melihat bagaimana waktu dan jarak dapat menciptakan tembok dalam hubungan keluarga yang terlihat rapuh. Bagi mereka yang pernah merasa tidak terhubung secara emosional dengan orang tua atau anak, film ini mungkin menyajikan perasaan keakraban, sekaligus kesedihan. Film ini, tanpa perlu banyak kata, menunjukkan bahwa cinta tidak selalu membutuhkan ekspresi verbal, namun ketika tidak diungkapkan, hubungan bisa merenggang secara perlahan.

“A Man Who Can’t Say Love” adalah potret menyentuh tentang hubungan keluarga yang mengalami hambatan komunikasi. Melalui kisah Jefri dan anak-anaknya, film ini menyampaikan pesan bahwa cinta dalam keluarga harus bisa diungkapkan sebelum jarak dan waktu merusaknya. Film ini memberikan cerminan bagi para penonton untuk lebih menghargai momen bersama keluarga, sekaligus memperlihatkan pentingnya keterbukaan dalam mengungkapkan kasih sayang, meskipun terkadang terasa sulit. Saksikan “A Man Who Can’t Say Love” pada program Kumpulan Kisah Awal Kapal dan Kapalnya di Sewon Screening 10.

(Aimee Latisha)

Penulis Aimee Latisha

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

A Man Who Can’t Say Love

Vitaria Wennie Handjaya | 12 Minutes | 2024 | Bahasa Indonesia, Bahasa Hokkien

Jadwal Pemutaran

G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 24 SEPTEMBER | 19.00 WIB

Pembaruan Terhubung