Asu Pemige, Sawa Pemige
- Ulasan Film

Sepanjang Digul Kami Ada, Pergi dan Pulang Seumur Hidup…
Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Di tengah hutan lebat Papua Selatan, kehidupan masyarakat adat telah terjalin erat dengan alam selama berabad-abad yang diturunkan dari kakek dan nenek leluhur mereka. Tanah, Sungai, dan Hutan merupakan sumber kehidupan bagi mereka dengan bergantung kepada alam tempat mereka tinggal. Namun, tanah ulayat yang mereka jaga dan rawat dengan penuh kasih, tiba-tiba dialihfungsikan oleh mereka yang datang dengan kekuasaan dan iming-iming kemakmuran yang palsu. Apa yang tersisa ketika hutan sebagai sumber kehidupan mereka dirampas untuk kepentingan segelintir orang? Bagaimana mereka akan melanjutkan hidup?. Ketidakadilan ini disuarakan dimana-mana, salah satunya dalam bentuk film dokumenter pendek berjudul “Asu Pemige, Sawa Pemige” yang disutradarai Wulan Andayani Putri.
“Asu Pemige, Sawa Pemige” mengangkat kisah nyata tentang perjuangan masyarakat Suku Awyu di Kabupaten Digul, Papua Selatan dalam mempertahankan tanah ulayat milik mereka. Di dalam film ini, Hendrikus Franky Woro, pemuka adat Suku Awyu berbagi keresahan tentang hutan adatnya yang hendak dialihfungsikan menjadi ladang sawit oleh suatu perusahaan. Tentu saja hal ini membawa perubahan besar dalam hidup masyarakat suku Awyu yang bergantung pada alam. Di dalam film ini diceritakan bagaimana masyarakat suku Awyu diperlakukan tidak adil dan usaha-usaha mereka dalam mempertahankan “rumah” mereka.
Pedih rasanya saat menonton film ini, apalagi pada bagian ketika Franky Woro mengatakan bahwa pada sosialisasi awal oleh perusahaan PT Indo Asiana Lestari di kampung Ampera, perusahaan tersebut menyampaikan kepada pemilik hak ulayat tanah adat bahwa mereka cukup “datang, dengar, duduk, diam, dan pulang”. Suku Awyu tidak berhak untuk diam, mereka memiliki hak penuh untuk bersuara dan terlibat dalam setiap keputusan yang menyangkut tanah mereka, karena tanah tersebut warisan leluhur yang menghidupi dan membentuk mereka. Film ini memperlihatkan bagaimana keteguhan, kekuatan, dan kesedihan masyarakat adat suku Awyu untuk mempertahankan tanah mereka. Narasi yang disampaikan dalam film ini benar-benar menyayat hati. Ucapan terima kasih kepada Wulan Andayani Putri dan orang-orang dibalik film ini yang telah menyuarakan hak masyarakat adat suku Awyu.
Kita sebagai manusia harus selalu peduli pada isu keadilan, lingkungan, dan hak asasi manusia. “Asu Pemige, Sawa Pemige” adalah film yang wajib ditonton, agar mata dan telinga kita terbuka lebar dalam menyikapi perjuangan masyarakat adat suku Awyu dan memberi dukungan kepada mereka. Luangkan waktu anda untuk mendengar kisah mereka. Saksikan “Asu Pemige, Sawa Pemige” pada Special Program: Di Mana Tanah Mama? Sewon Screening 10.
(Vitriya Ningrum)
Penulis Vitriya Ningrum
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira
Detail Film
Asu Pemige, Sawa Pemige
Wulan Andayani Putri | 14 Minutes | 2023 | Bahasa Indonesia
Jadwal Pemutaran
G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 24 SEPTEMBER | 16.20 WIB