Bambang
- Ulasan Film

Hutang Dibawa Mati, Siapa yang Rugi?
Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Film “Bambang” karya Yusron Fuadi menyoroti fenomena sosial yang kerap ditemui di Indonesia, yaitu kebiasaan warga yang “tidak enakan” dalam menagih utang. Tema ini sangat relevan dan membumi, mengingat banyak orang sering kali mengalami dilema moral saat harus menagih hutang, terutama jika pihak yang berhutang sudah meninggal dunia. Film ini membawa penonton masuk ke dalam situasi tersebut melalui kisah dua sahabat, Tomy dan Kemal, yang dihadapkan pada kenyataan bahwa teman mereka, Bambang, telah meninggal sebelum melunasi utangnya.
Cerita berpusat pada Tomy dan Kemal yang sedang membahas utang Bambang. Sebelum meninggal, Bambang meminjam uang dari mereka untuk keperluan yang tidak mulia, yakni menyewa pelacur. Perbincangan antara Tomy dan Kemal tidak hanya membahas utang tersebut, tetapi juga isu-isu lain seputar Bambang yang mencuat setelah kematiannya. Karakter Bambang diungkap melalui dialog dan kenangan dua sahabatnya, memberikan gambaran yang lebih luas tentang siapa Bambang sebenarnya dan kompleksitas kehidupannya.
Film ini mengangkat isu-isu sosial yang sering kali dianggap tabu atau tidak nyaman dibicarakan. Kebiasaan “tidak enakan” dalam menagih utang menunjukkan bagaimana norma sosial dan rasa sungkan dapat mempengaruhi keputusan pribadi, bahkan dalam situasi yang mendesak. Melalui karakter Bambang, Tomy, dan Kemal, Yusron Fuadi menggambarkan bagaimana masyarakat berusaha mengatasi konflik antara moralitas pribadi dan kebutuhan praktis.
“Bambang” bukan hanya sebuah cerita tentang utang, tetapi juga refleksi tentang hubungan antarmanusia, moralitas, dan persepsi sosial. Film ini menantang penonton untuk berpikir tentang bagaimana mereka akan menghadapi situasi serupa, dan apa yang akan mereka lakukan jika berada di posisi Tomy dan Kemal. Apakah mereka akan tetap menuntut keadilan atau memilih untuk mengikhlaskan, meskipun dengan hati yang berat?
Dengan narasi yang kuat, karakter yang realistis, dan pesan moral yang mendalam, “Bambang” menjadi salah satu film yang membuktikan bahwa cerita yang sederhana tentang kehidupan sehari-hari dapat menjadi sangat berarti ketika disampaikan dengan kejujuran dan ketulusan. Jadi, apa Tomy dan Kemal bisa ikhlas? Tonton “Bambang” dalam program Layar Lanskap Yogyakarta Sewon Screening 10.
(Nurul A’mal Mustaqimah)
Penulis Nurul A’mal Mustaqimah
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira
Detail Film
Bambang
Yusron Fuadi | 23 Menit | 2022 | Indonesia
Jadwal Pemutaran
Yogyatorium Dagadu Djokdja | 13 JULI | 18.30 WIB