Buruh Seni

- Ulasan Film

Suarakan Hak Kita, Ruang Publik Milik Bersama!

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – “Buruh Seni,” sebuah film yang disutradarai oleh Eden Junjung, mengangkat tema realisme sosial yang cenderung lebih banyak porsinya mengangkat soal buruh. Berawal dari merespon ruang publik dengan memasang teks untuk mengkritisi masa orde baru yang merujuk pada periode pemerintahan di Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, yang berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998. Masa ini dikenal dengan fokusnya pada stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan kontrol yang ketat terhadap kebebasan politik serta media.

Digie Sigit sebagai seniman jalanan yang mengabdikan diri untuk berkarya di ruang publik menyuarakan keadilan khususnya masyarakat dan buruh yang tidak mendapat hak selayaknya. Digie Sigit berkarya di ruang publik dengan komitmen kuat terhadap perjuangan sosial, menjadikannya simbol perlawanan dan advokasi melalui seni. Dengan sadar Digie Sigit secara realistis menerima resiko bahwa menjadi seniman jalanan tidak dapat menjadi penghasilan utama, terlebih untuk keluarganya. Karena itu Digie juga bekerja serabutan untuk menambah penghasilannya.

Film ini tidak hanya menampilkan kehidupan sehari-hari Digie Sigit sebagai seniman jalanan, tetapi juga menyelipkan narasi tentang Marsinah, seorang pejuang buruh wanita yang dibunuh pada tahun 1993. Marsinah menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh di Indonesia, dan penyebutan namanya dalam film ini memberikan konteks sejarah dan menunjukkan betapa pentingnya perjuangan ini dari waktu ke waktu.

Dalam film ini, kita dapat melihat bagaimana seniman jalanan bergerak untuk menyuarakan hak-hak yang seharusnya di ruang publik. Mereka tidak hanya berjuang untuk keadilan, tetapi juga untuk mendapatkan hak-hak dasar yang sering kali diabaikan. Narasi ini mengingatkan kita pada perjuangan Marsinah, seorang buruh wanita yang menjadi martir dalam perjuangan hak-hak buruh.

Dengan karya yang sudah tersebar di ruang publik, Digie Sigit mendapat apresiasi untuk memamerkan karyanya dalam Art Exhibition Artpresiasi Buruh Migran: Lintas Batas 2012 silam di Jakarta. Bentuk karya yang dipamerkan berupa dokumentasi dari karya yang sudah menempel di ruang publik. Kenapa Digie Sigit memilih kehidupan sebagai seniman jalanan? Hidup dengan penghasilan serabutan dan penuh perhatian pada hak buruh dan ruang publik yang banyak dari kita mengabaikannya. Tonton “Buruh Seni” dalam program Layar Lanskap Yogyakarta Sewon Screening 10.

(Nurul A’mal Mustaqimah)

Penulis Nurul A’mal Mustaqimah

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Buruh Seni
Eden Junjung | 20 Minutes | 2012 | Indonesia

Jadwal Pemutaran

Yogyatorium Dagadu Djokdja | 13 JULI | 18.30 WIB

Pembaruan Terhubung