Gereja di Seberang Sana
- Ulasan Film

Dilema Menunaikan Habluminannas
Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Keseimbangan antara habluminallah dan habluminannas menjadi kunci dalam menjalani kehidupan beragama dengan baik. Kedua hubungan ini, baik dengan Tuhan maupun dengan sesama manusia, harus dipelihara secara harmonis. Dalam berbagai situasi, sering kali terjadi persinggungan yang menuntut kita untuk bijaksana dalam menentukan prioritas tanpa mengabaikan salah satu dari keduanya. Film “Gereja di Seberang Sana” menggambarkan dilema atas kedua pilihan tersebut melalui sosok Yunus, seorang umat Katolik yang terjebak dalam pilihan sulit antara melanjutkan perjalanan ke gereja untuk beribadah atau menolong seseorang yang tengah membutuhkan pertolongan darurat di hadapannya.
Kisah ini berawal dari Yunus yang mengajak anaknya, Abraham untuk pergi ke gereja mengikuti ibadah doa rosario. Di tengah perjalanan, motor yang mereka kendarai tiba-tiba mogok. Untungnya, mereka bertemu dengan pasangan suami istri muslim yakni Musa dan Aisyah yang menawarkan tumpangan mobilnya. Di sepanjang perjalanan dalam mobil mereka berbincang kasual, hingga timbul ketegangan akibat pembicaraan mengenai gereja yang terbakar. Ada kesalahpahaman antara Yunus dan Aisyah, dialog keduanya terkesan intens, hal ini mengangkat isu sensitif mengenai prasangka dan bagaimana dua orang dari latar belakang agama yang berbeda mencoba untuk memahami satu sama lain.
Narasi dalam film “Gereja di Seberang Sana” ini menjadi lebih kompleks dengan adanya situasi darurat ketika Musa sang sopir yang tiba-tiba sakit dan tak sadarkan diri di tengah perjalanan. Di sinilah Yunus dihadapkan pada pilihan sulit, yakni antara tetap melanjutkan ke gereja atau membantu membawa Musa ke rumah sakit. Keputusan Yunus yang akhirnya kukuh akan tetap turun di depan gereja menimbulkan konflik baru dengan anaknya. Abraham menganggap ayahnya lebih mementingkan gereja daripada nyawa orang lain yang tengah kesakitan di depan mata, ia frustasi melihat sikap Yunus yang tampak egois dan kurang empati. Sikap Yunus yang tetap kukuh pergi ke gereja ini terletak pada tekadnya untuk memenuhi harapan sosial. Yunus merasa terikat untuk pergi ke gereja karena ia merasa diterima dan diharapkan oleh orang-orang gereja, ia datang ke sana demi menjaga citra dan relasi baik di mata mereka.
Film “Gereja di Seberang Sana” karya debut Osama Al Madani ini menyajikan cerita personal yang mencerminkan realitas sosial yang relatable dan menyentuh, didukung dengan visual yang menarik serta penggunaan bahasa Melayu di sepanjang dialognya memberikan kesan autentik. Yunus, yang awalnya lebih fokus pada kewajibannya kepada Tuhan, akhirnya dihadapkan pada kenyataan bahwa pengabdian kepada Tuhan tidak terpisah dari tanggung jawabnya terhadap sesama. Hal ini menunjukkan bahwa beragama bukan hanya soal ritual dan ibadah, tetapi juga bagaimana kita merespon kebutuhan orang lain, menolong sesama dalam keadaan apapun. Lihat nanti bagaimana refleksi Yunus dalam film “Gereja di Seberang Sana” pada program Sementara untuk Selama-lamanya Sewon Screening 10.
(Majesti Anisa)
Penulis Majesti Anisa
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira
Detail Film
Gereja di Seberang Sana
Osama Al Madani | 15 Minutes | 2023 | Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia
Jadwal Pemutaran
G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 26 SEPTEMBER | 19.00 WIB