Identitas
- Ulasan Film
Damai Telah Tiba, Tapi Masih Ada Luka yang Tertawan
Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Dalam sejarah Indonesia, ada masa di mana KTP bukan hanya sekadar identitas tetapi juga dianggap sebagai nyawa kedua, sebutlah KTP Merah Putih. KTP Merah Putih dirilis khusus oleh pemerintah untuk warga Aceh pada tahun 2003, yang kemudian menjadi kontroversial selama masa darurat militer Aceh pada tahun 2003 hingga 2004. KTP ini dianggap sebagai tekanan dan kontrol militer terhadap warga sipil Aceh hingga disebut-sebut sebagai nyawa kedua mereka. Bentuk fisik dan informasi penting di dalamnya berbeda dengan KTP yang berlaku di daerah lain. KTP ini berukuran dua kali lebih lebar dari KTP yang berlaku saat ini, yakni selebar bentang tangan orang dewasa, desain sampul juga tampak berbeda sebab tercantum lima butir sila Pancasila. KTP Merah Putih ini hanya berlaku hingga berakhirnya status darurat militer di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Pada masa itu, KTP Merah Putih memang diimplementasikan sebagai langkah untuk memudahkan identifikasi warga dan membedakan antara penduduk lokal dengan pihak-pihak yang dicurigai sebagai anggota Gerakan Aceh Merdeka. Sebagian warga Aceh merasa bahwa KTP ini dapat meningkatkan keamanan dengan membantu pihak berwenang mengenali dan menangkap anggota GAM. Namun, ada juga yang merasa KTP ini membuat mereka menjadi sasaran jika dicurigai sebagai simpatisan GAM. Adanya KTP Merah Putih ini, memengaruhi mobilitas dan aktivitas sehari-hari warga Aceh. Mereka harus selalu membawa KTP ini dan siap menunjukkan kepada pihak berwenang kapan pun diminta. Hal ini dapat menambah beban psikologis bagi warga yang sudah terbebani oleh situasi konflik yang sedang berlangsung.
Seperti halnya yang terjadi dalam film dokumenter “Identitas” garapan J. Hendry Noerman. Film “Identitas” ini mengisahkan tentang pengalaman pribadi seorang pria warga Aceh yang bepergian dengan bus umum dari Lhokseumawe ke Medan di saat darurat militer Aceh masih berlangsung. Di tengah perjalanan bus yang ditumpanginya, muncul gerombolan orang yang berlarian entah akan ke mana disusul dengan gema suara letusan senjata dari kejauhan. Meskipun pria ini memiliki KTP Merah Putih, dia tetap merasa terancam, takut setengah mati. Identitas bisa menjadi pedang bermata dua dalam konteks konflik pada masa itu. Bus yang dinaikinya pun ikut dirazia, setiap penumpang diperiksa identitasnya oleh petugas patroli yang menghadang. Mereka mengecek siku dan kepalan tangan setiap penumpang, menelisik jika ada tanda-tanda pernah ikut latihan militer secara gerilya. Lalu di malam lain saat perjalanan pria ini mengunjungi adiknya, lagi-lagi bus yang dinaikinya dirazia dan diperiksa lagi. Sayangnya, di antara semua penumpang bus, hanya pria ini yang dibawa ke pos, ditodong banyak pertanyaan dengan rambut panjangnya yang menjadi pusat atensi mereka. Pria ini beranggapan bahwa mempunyai identitas tidak menjamin untuk terbebas dari tuduhan-tuduhan tak beralasan dan bahaya yang menyerempet seperti itu. KTP Merah Putih yang seharusnya memberikan jaminan keamanan malah menjadi alat kontrol yang menambah beban psikologis. Apa yang paling menyentuh dalam film ini adalah bagaimana penggambaran trauma dan efek psikologis dari konflik berkepanjangan terhadap individu. Meski pria ini akhirnya kembali ke kotanya dan merasa sedikit lega, trauma yang tersisa tetap menghantui pikirannya.
Film “Identitas” garapan J. Hendry Noerman ini tidak hanya mengisahkan pengalaman pribadi mengenai karakter pria tersebut tetapi juga mencerminkan realitas sosial yang terjadi selama darurat militer di Aceh. Trauma yang dialami oleh pria itu sebagai karakter utama dalam film dokumenter ini, membawa pesan bahwa kedamaian yang datang setelah konflik harus diikuti dengan usaha serius untuk menyembuhkan luka-luka psikologis yang ditinggalkan. Film ini sangat menarik untuk ditonton, J. Hendry Noerman selaku sutradara menggunakan eksperimentasi untuk menggambarkan perjalanan tokoh pria itu pada masa darurat militer Aceh yang tak terdokumentasikan secara visual. Goresan animasinya sangat atraktif dan mendukung sisi naratifnya sehingga tersampaikan dengan jelas dan terasa sangat nyata.
Ikuti kisah perjalanan pria ini dalam film “Identitas” pada program Layar Fakultas: Seni Rupa Sewon Screening 10.
(Majesti Anisa)
Penulis Majesti Anisa
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira
Detail Film
Identitas
J. Hendry Noerman | 8 Menit | 2017 | Indonesia
Jadwal Pemutaran
Fakultas Seni Rupa | 10 AGUSTUS | 18.00 WIB