Laila
- Ulasan Film

Bisakah Merdeka di Tengah Belenggu Sosial?
Yogyakarta, Sewon Screening 10 – “Laila”, film pendek karya Wucha Wulandari, membuka mata penonton pada realitas yang jarang terungkap secara gamblang, bagaimana perempuan seringkali terjebak dalam tuntutan sosial yang menghimpit. Wucha Wulandari sebagai Sutradara memberikan karakter dari Laila tidak memiliki kebebasan untuk meraih cita-citanya. Ia terpaksa mengikuti tuntutan yang kaku, seolah segala pilihan yang ia miliki bukanlah miliknya, tetapi milik orang lain dan diperlihatkan bagaimana perempuan tidak secara merdeka memutuskan apa yang diinginkan.
Film ini menggambarkan situasi yang relevan di negeri kita, yang dikatakan telah merdeka, namun secara individu, perempuan masih harus berhadapan dengan keterbatasan akibat ekspektasi sosial. Laila menjadi simbol reflektif bagi banyak perempuan zaman ini, di mana kebebasan masih menjadi sesuatu yang langka. Dalam setiap tindakannya, Laila bukanlah agen dari hidupnya sendiri, ia tunduk pada tekanan eksternal dari keluarga, masyarakat, hingga norma-norma sosial yang seolah-olah sudah tertanam kuat sejak lahir.
Di balik kesunyian yang mendominasi film ini, ada pesan kuat yang terasa bergaung. “Laila” bukan hanya tentang pergulatan seorang perempuan, tetapi juga tentang bagaimana struktur sosial sering kali merampas kebebasan perempuan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Di setiap langkah Laila, kita melihat bayang-bayang keterpaksaan. Apapun keputusan yang diambil bisa jadi bukan dari hati, melainkan karena tekanan.
Pesan yang disampaikan oleh “Laila” sangat relevan dengan kehidupan perempuan masa kini. Film ini menggambarkan bahwa kebebasan sejati masih menjadi perjuangan, dan banyak perempuan, seperti Laila, yang masih harus berjuang melawan ekspektasi sosial yang tak kasat mata namun begitu kuat mencengkeram. Di setiap adegan, penonton diajak untuk merenung, menyadari bahwa banyak dari kita, baik disadari atau tidak, masih terbelenggu oleh norma-norma sosial yang membatasi ruang gerak perempuan.
Dengan pendekatan yang halus namun penuh makna, “Laila” berhasil menyuarakan apa yang sering kali tersembunyi dalam hati banyak perempuan, yaitu, perasaan tidak berdaya melawan sistem yang tak berpihak pada kebebasan mereka. Dan ternyata, masih banyak Laila lain di luar sana yang masih terperangkap dalam belenggu sosial yang tak kasat mata. Saksikan “Laila” pada program main-event Focus on: The Persistent Look of Wucha Wulandari Sewon Screening 10.
(Satya Din Muhammad)
Penulis Satya Din Muhammad
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira
Detail Film
Laila
Wucha Wulandari | 18 Minutes | 2024 (On Distribution) | Bahasa Indonesia
Jadwal Pemutaran
G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 28 SEPTEMBER | 13.00 WIB