Last Voice for Lost Light

- Ulasan Film

Kehilangan Pahit yang Menyesalkan

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Kehilangan adalah bagian tak terhindarkan dari perjalanan hidup, ia datang tanpa peringatan, mengambil sesuatu yang berharga tanpa memberikan kita kesempatan untuk siap menghadapinya. Setelah kehilangan akan ada banyak rasa penyesalan, sesal atas hal yang belum sempat dilakukan bersamanya, kata-kata yang tak sempat terucap, waktu yang tidak bisa diulang. Kehilangan juga sering membuat kita berandai-andai  “Seandainya saja aku hadir lebih cepat, mungkin hal ini tidak akan terjadi.” Tapi kehilangan tak memberi ruang untuk “seandainya,” Ia hanya menyisakan kepahitan yang harus kita terima dengan berat hati. Kepahitan ini harus dirasakan sepasang suami istri dalam film pendek fiksi “Last Voice for Lost Light” yang disutradarai Yudis Maulana. 

“Last Voice for Lost Light” menceritakan tentang seorang calon ayah yang harus merasakan penyesalan akan kehilangan anak pertama yang sedang dikandung istrinya karena ia terlambat menemani istrinya yang berjuang melahirkan sendiri. Film ini dikemas tanpa dialog, setiap momen disampaikan hanya melalui bahasa tubuh, ekspresi wajah, dan nuansa hitam putih dalam film yang pada akhirnya membuat emosi di dalam film terasa lebih kuat dan mendalam. Kita diajak turut serta merasakan kehampaan, penyesalan, serta duka yang menyelimuti mereka tanpa perlu kata-kata. 

Saat menonton film ini saya benar-benar merasakan kehampaan dan kekosongan yang sedang dialami karakter utama, rasa penyesalan tersorot dengan baik melalui ekspresi karakter. Mengingatkan saya akan kesunyian yang juga pernah saya alami saat kehilangan orang berharga dalam hidup saya. Film ini menggambarkan kesunyian yang penuh makna. Para aktor dalam film ini berakting dengan sangat baik, sutradaranya mengarahkan pemain dengan sangat baik, sehingga penonton dapat merasakan emosi yang disampaikan dalam film ini. 

Film ini mengajarkan tentang betapa berharganya setiap waktu yang kita punya, seolah-olah menyampaikan bahwa lebih baik waktu yang kita punya kita habiskan bersama orang terkasih kita, agar waktu tidak terbuang sia-sia dan memberi rasa penyesalan. Hargailah setiap waktu bersama yang kita miliki, karena kehilangan datang tanpa peringatan dan mengisolasi diri kita dalam kehampaan, sampai akhirnya kita dapat merelakan, tapi apakah kita benar-benar bisa merelakan?. 

Saksikan film “Last Voice for Lost Light” pada program main-event Yang Riuh Berbisik (Official Selection 2) Sewon Screening 10.

(Vitriya Ningrum)

Penulis Vitriya Ningrum

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Last Voice for Lost Light

Yudis Maulana | 11 Minutes | 2024 | Bahasa Arab

Jadwal Pemutaran

G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 25 SEPTEMBER | 19.00 WIB

Pembaruan Terhubung