Ludruk Dahulu, Kini, dan Nanti

- Ulasan Film

Waria Pewaris Tobong

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Kesenian tradisional menghadapi tantangan tersendiri untuk tetap eksis di tengah modernisasi. Meski tidak menghasilkan pendapatan sebanyak dahulu, sejumlah seniman tetap setia melakoninya. Seperti yang dilakukan oleh para seniman Ludruk, di mana sebagian besar dari mereka adalah waria.

Ludruk merupakan seni teater tradisional dari Jawa Timur yang umumnya menampilkan kombinasi antara dialog, tarian, dan komedi. Ludruk diibaratkan seperti tali jemuran, mampu menampilkan beragam cerita yang digemari oleh masyarakat. Ludruk ini beragam, salah satunya adalah ludruk tobong yang dikelola secara mandiri maupun kelompok di suatu wilayah dan pendapatannya mengandalkan hasil dari penjualan tiket.

Kini hanya tersisa dua ludruk tobong, salah satunya di Ponorogo, yaitu Ludruk Suromenggolo. Di balik pesonanya, Ludruk Suromenggolo menghadapi tantangan besar. Para penggemar kebanyakan adalah orang tua yang jumlahnya semakin menipis, sementara generasi muda cenderung kurang tertarik dan aksesnya terbatas terhadap seni tradisional ini.

“Ludruk Dahulu, Kini, dan Nanti” garapan Reni Apriliana ini tidak hanya mengangkat isu tentang pelestarian seni tradisional, tetapi juga tentang kesetiaan, keberanian, dan semangat untuk bertahan di tengah perubahan zaman. Film ini menyadarkan kita akan betapa pentingnya mempertahankan warisan budaya dan nilai-nilai tradisional di tengah arus modernisasi yang terus bergerak maju.

Bagaimana upaya Eka Sanjaya dan para waria lainnya untuk mempertahankan Ludruk Suromenggolo di tengah minimnya penerus dan kurangnya minat masyarakat modern? Ikuti perjalanan mereka dalam film “Ludruk Dahulu, Kini, dan Nanti” pada program Layar Tandang: Jakarta Sewon Screening 10. (Majesti Anisa)

Penulis Majesti Anisa

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Ludruk Dahulu, Kini, dan Nanti

Reni Apriliana | 28 Minutes | 2022 | Indonesia

Jadwal Pemutaran

Teater Sjumandjaja, FFTV Institut Kesenian Jakarta | 12 JUN | 14.00 WIB

Pembaruan Terhubung