Mikrokosmos

- Ulasan Film

Membungkus Rapi Rasa Sedih dalam Keheningan

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Dalam hidup, kita seringkali terjebak dalam rutinitas sehari-hari yang terlihat biasa, bahkan terlihat membosankan bagi orang yang melihat kita sepanjang waktu melakukan hal tersebut. Pekerjaan yang kita lakukan berulang kali tanpa disadari membentuk identitas dan keberadaan kita. Tahun demi tahun berlalu, dan tanpa terasa, kita telah terikat menjadi bagian ruang, tempat dan waktu. Tapi akan ada saatnya kita harus berpisah dengan hal tersebut, hal yang telah menjadi bagian dari hidup kita. 

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menghadapi perpisahan. Ada yang memilih untuk mengungkapkan perasaannya lewat kata, dan ada yang memilih untuk diam dan menyimpan perasaan itu sendiri. Tapi menurut saya orang yang memilih untuk menyimpan sendiri perasaannya itu lebih merasa sedih dalam menghadapi perpisahan. Seperti Pak Yanto dalam film fiksi pendek “Mikrokosmos” yang disutradarai Aaron Pratama, dalam film tersebut Pak Yanto menjalani hari terakhirnya sebagai karyawan kampus setelah mengabdi selama 25 tahun, seperti hari-hari biasa dia bekerja.  

Dalam film “Mikrokosmos” Pak Yanto melakukan pekerjaan sehari-harinya sebagai karyawan kampus, namun ada sedikit yang berbeda, ada rasa kehilangan yang terbungkus rapi di balik ekspresinya yang tenang. Saat berinteraksi dengan orang lain Pak Yanto terlihat seperti Pak Yanto biasanya, ia pintar menyembunyikan kesedihannya. Tapi di akhir film ia mengunjungi ruang kelas, ia mengambil gambar ruangan tersebut, dan disitu Pak Yanto tetap terlihat tenang tapi ekspresinya sangat menunjukkan betapa sedihnya ia harus berpisah dengan pekerjaannya yang sudah ia lakukan kurang lebih 25 tahun. Film ini memiliki perjalanan waktu yang pelan, tidak terburu-buru, sehingga penonton bisa lebih dekat dengan perasaan yang dirasakan Pak Yanto. Film ini memberi ruang tersendiri untuk Pak Yanto merasakan sedihnya.

Menurut saya film ini berhasil memperlihatkan hubungan manusia dengan pekerjaannya yang telah ia lakukan bertahun-tahun, yang pada akhirnya menjadi bagian dari dirinya yang tentu saja tak terpisahkan. Film ini menunjukkan kehampaan dengan baik, sehingga penonton turut serta merasakan emosi tersebut, ekspresi karakter utama dimainkan dengan baik. Film ini melihatkan realitas kehidupan yang akan terus berjalan, walau tidak sama dengan sebelumnya. 

Saksikan film “Mikrokosmos“ pada program main-vent Yang Riuh Berbisik (Official Selection 2) Sewon Screening 10.

(Vitriya Ningrum)

Penulis Vitriya Ningrum

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Mikrokosmos

Aaron Pratama | 16 Minutes | 2024 | Bahasa Indonesia

Jadwal Pemutaran

G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 25 SEPTEMBER | 19.00 WIB

Pembaruan Terhubung