Monisme

- Ulasan Film

Upaya Kesatuan Antara Manusia, Alam, dan Merapi

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Manusia dan alam selalu berada dalam hubungan yang kompleks, penuh kontradiksi. Di satu sisi, manusia adalah bagian dari alam, namun di sisi lain, manusia terus berusaha mengendalikan dan mengintervensi kekuatan alam yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dalam perjalanan kehidupan yang tidak terpisahkan antara makhluk hidup dan alam, sering kali manusia dihadapkan pada pertentangan antara sains dan mitos, perhitungan dan naluri. Manusia berdiri di persimpangan antara realitas dan kepercayaan, terutama dalam hubungannya dengan Merapi. Film “Monisme” mengambil latar sekitar Merapi, salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Film ini bukan hanya menggali isu seputar bencana alam, tetapi juga tentang interaksi kompleks antara manusia, alam, dan spiritualitas. Tentang bagaimana manusia bertahan dari Merapi atau Merapi yang bertahan dari kerakusan dan egoisme manusia. Dengan bantuan aktor profesional maupun nonprofesional, film ini menggambarkan dinamika yang terjadi antara manusia dan alam.  

 

Kekuatan naratif film ini terletak pada plot-plot yang saling bersinggungan. Di mana ada vulkanolog yang melakukan observasi untuk memahami dan memprediksi aktivitas Merapi, ada jurnalis yang ingin mewawancarai penambang pasir, dan seorang warga yang melakukan ritual pemujaan pada Merapi. Pembagian plot ini memberikan lapisan pemahaman yang berbeda mengenai Merapi dari tiga sudut pandang yaitu ilmiah, ekonomis, dan spiritual. Film ini juga menggunakan tiga jenis medium yang berbeda yaitu hybrid antara fiksi, dokumenter, dan eksperimental. Bagian fiksi menyentuh aspek emosional dan dramatik dari hubungan manusia dan alam, termasuk adegan-adegan kekerasan dan ketidakadilan yang terjadi di sekitar Merapi. Bagian dokumenter memberikan fakta-fakta mengenai aktivitas vulkanik Merapi, menampilkan gambar-gambar seismograf, aliran lava, dan awan panas memberikan gambaran jelas tentang kekuatan destruktif gunung ini. Bagian eksperimental memberikan dimensi tambahan yang lebih abstrak dan spiritual. Misalnya, adegan mistis di mana pintu tirai dan cahaya merah serta asap diiringi dengan narasi tentang letusan Merapi. Bagi ahli mistik di sekitar Merapi, gunung ini bukan hanya sebuah bentuk fisik, tetapi juga ruang dan waktu yang terhubung dengan leluhur dan kekuatan-kekuatan gaib. Mereka melihat Merapi sebagai pusat dari jagat raya, dan segala aktivitasnya dianggap sebagai bagian dari keseimbangan alam yang harus dijaga, baik secara fisik maupun spiritual.

 

Tema besar yang diangkat dalam film “Monisme” ini adalah tentang monisme itu sendiri. Sebuah gagasan yang menyatakan bahwa manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Melalui narasi yang disampaikan oleh ahli mistik, film ini menggali pertanyaan tentang posisi manusia dalam jagat raya ini. Mengenai apakah manusia memiliki hak untuk mengontrol dan memanfaatkan alam untuk keuntungannya sendiri atau sebaliknya, manusia seharusnya hidup harmonis dengan alam, menyadari bahwa ia hanyalah bagian kecil dari siklus alam yang lebih besar. Film ini juga menyoroti dilema moral yang dihadapi oleh para penduduk di sekitar Merapi, terutama para penambang pasir. Bagi mereka, menambang pasir adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup, meskipun itu berarti berkontribusi pada kerusakan lingkungan. Ada ketegangan antara kebutuhan ekonomi dan kesadaran akan kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitas penambangan, tetapi pada akhirnya mereka hanya berharap pada satu hal, yaitu erupsi Merapi yang akan memberikan mereka pasir melimpah untuk ditambang lagi.

Di awal dan pertengahan film ini, terdapat adegan kekerasan seksual dan penggunaan bahasa kasar yang mungkin mengganggu sebagian penonton. Meski demikian, bagian ini dipilih secara gamblang untuk menciptakan kesadaran akan realitas keras yang dihadapi masyarakat, serta untuk menggambarkan dampak tragis dari konflik antara manusia dan alam. Penggambaran kekerasan ini tidak sekadar untuk shock value, tetapi juga berfungsi sebagai kritik terhadap pola pikir egois yang merusak hubungan manusia dengan alam.

 

“Monisme” garapan Rizar Rizaldi ini merupakan film fiksi yang menelanjangi realita. Film ini berhasil menggambarkan hubungan manusia dan alam dengan cara yang berbeda dari kebanyakan film tentang bencana alam. Dengan memadukan elemen fiksi, dokumenter, dan eksperimental, film ini memberikan perspektif yang luas tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan kekuatan alam. Film ini membuat kita mempertanyakan kembali apa peran yang telah kita lakukan dalam menjaga keseimbangan alam dan bagaimana kita dapat hidup berdampingan dengan alam yang telah membentuk kita. 

 

Simak kisah para manusia yang berusaha menyatu dengan Merapi dalam film “Monisme” pada program Layar Pembuka Sewon Screening 10.

(Majesti Anisa)

Penulis Majesti Anisa

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Monisme

Riar Rizaldi | 115 Minutes | 2023 | Bahasa Indonesia dan bahasa Jawa

Jadwal Pemutaran

G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 24 SEPTEMBER | 13.00 WIB

Pembaruan Terhubung