Pema

- Ulasan Film

Bukan Gila Melainkan Sakit

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Depresi dan gangguan kesehatan mental sering kali disalahpahami oleh masyarakat umum maupun orang-orang terdekat. Sebagian dari mereka masih ada yang menganggap kondisi ini sebagai bentuk kebodohan atau perilaku aneh, bahkan mengaitkannya dengan kegilaan dan gangguan mistis. Padahal, depresi dan gangguan kesehatan mental adalah penyakit yang nyata. Keluarga yang seharusnya menjadi sumber dukungan pun sering kali malah menjadi pihak yang menyakiti dengan stigma yang mengisolasi penderitanya. Sama halnya dengan yang dialami oleh Murphy dalam film “Pema”.

Murphy, seorang gadis muda keturunan Kongo yang telah berusia dua puluh tahun, tengah menderita depresi. Ia tidak dapat menemukan kekuatan untuk menghadapi ibunya dan mengakui ketidakbahagiaannya. Keluarganya sendiri sangat religius dan terikat pada penampilan. Murphy tidak punya pilihan lain untuk bertahan hidup selain bersembunyi di tempat tidurnya. Murphy seolah terjebak dalam lingkaran tak berujung dengan kondisi depresinya, ia menghadapi pemahaman keluarganya yang tidak mendukung. Satu momen krusial dalam film ini yaitu ketika pastor di gereja berusaha mendoakan Murphy dengan harapan mengusir iblis yang diyakini mengganggunya. Hal ini merupakan representasi yang kuat mengenai depresi yang sering kali disalahpahami sebagai masalah spiritual dan moral, alih-alih sebagai kondisi medis yang memerlukan perhatian. Adegan ini menciptakan ketegangan emosional yang terasa nyata, reflektif untuk mempertimbangkan bagaimana kita dapat memahami dan mendukung orang-orang di sekitar kita yang mengalami masalah kesehatan mental. 

Visual film ini sangat mendukung narasi secara realistis dan emosional. Kontras antara area ranjang Murphy yang tampak sendu dengan area ranjang adik-adiknya yang ceria menggambarkan ketidakberdayaannya di tengah kebahagiaan yang seolah jauh dari jangkauannya. Namun, di tengah kesedihan dan keputusasaan ini, untungnya masih ada harapan untuk Murphy. Saat Murphy memutuskan sendiri akan menemui seorang psikolog, ada sinyal positif dari dalam dirinya yang mau berusaha untuk keluar dari zona depresi dan meraih kehidupannya kembali, meski ibunya sendiri tampak skeptis padanya. Langkah berani Murphy ini harusnya didorong dan dihargai, terutama oleh keluarganya yang mungkin tidak sepenuhnya memahami kondisi tersebut. 

Film “Pema” karya Victoria Neto ini menggarisbawahi betapa pentingnya dukungan keluarga dalam mengatasi masalah kesehatan mental. Saat Murphy berusaha untuk menjelaskan kondisinya, rasa frustasinya ikut terasa ketika orang-orang terdekatnya tidak mampu memahami dan mendukungnya dengan cara yang dia butuhkan. Film ini menunjukkan betapa pentingnya dukungan keluarga saat salah satu anggotanya berjuang melawan depresi. Pesan yang disampaikan film ini sangat relevan, terutama di zaman sekarang, di mana stigma seputar kesehatan mental masih mengakar kuat dalam masyarakat. Film ini mengajak kita untuk lebih peka terhadap kondisi kesehatan mental. Film “Pema” ini patut ditonton oleh siapa pun yang ingin memahami lebih dalam mengenai tantangan-tantangan yang dihadapi oleh mereka yang berjuang dengan kesehatan mental. 


Simak kisah Murphy yang berusaha keluar dari zona depresinya dalam film “Pema” pada Special Program: Internasional Film Student Showcase Sewon Screening 10. Siapa tahu nanti kamu menjadi salah satu di antara segelintir orang yang peduli, mendukung, dan membantu Murphy-Murphy lainnya.

(Majesti Anisa)

Penulis Majesti Anisa

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Pema

Victoria Neto | 19 Minutes | 2022 | Bahasa Perancis dan bahasa Lingala

Jadwal Pemutaran

G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 25 SEPTEMBER | 15.30 WIB

Pembaruan Terhubung