Picture Perfect

- Ulasan Film

Beranjak Menangkap Moment

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Kita seringkali terjebak dalam rutinitas yang sama, hari demi hari berlalu tanpa perubahan. Aktivitas yang monoton membuat jenuh, bahkan rebahan lama-lama pun terasa melelahkan. Ada hari-hari ketika tidak melakukan apa-apa pun terasa berat. Mungkin itulah saatnya untuk keluar dari zona nyaman.  Saatnya untuk melihat dunia di luar, orang-orang, jalanan, suasana yang tak pernah sama. Bawa kamera atau cukup dengan ponsel, tangkap momentnya, abadikan dalam setiap foto yang diambil, biarkan lensa menangkap apa yang hati rasakan. Seperti yang dilakukan oleh seorang gadis remaja dalam film “Picture Perfect”. 

Film “Picture Perfect” karya Kinjal Johri ini menggabungkan unsur fiksi dan eksperimental untuk menggambarkan perjalanan introspektif seorang gadis remaja yang merasa terjebak dalam kehidupannya yang monoton di tengah puncaknya dunia maya. Melalui lensa kamera fotonya, ia mencoba menemukan makna hidup dengan mendokumentasikan kehidupan orang lain. Hal ini menjadi semacam pelarian dari rasa hampa yang menyelimutinya. Narasi film ini terjalin erat dengan karakter Andrei Tate, seorang konten kreator yang memancing refleksi dalam kehidupan gadis tersebut. Diawali dengan pertanyaannya seperti “Apakah kamu merasa lelah, bosan, atau bahagia?” menjadi pemicu bagi gadis itu untuk beranjak bangun dan mulai mengarahkan pandangannya pada dunia luar, bertemu dengan orang-orang yang ia sebut dengan specimen. Gadis remaja ini mulai mengamati kehidupan orang lain, seperti petani, keluarga yang harmonis, pertemanan remaja laki-laki, hingga kakek dan cucu perempuannya. Momen-momen ini tampaknya menjadi upaya gadis ini untuk memahami kehidupan di luar dirinya, masih banyak orang yang menikmati hidup tanpa bergantung pada internet. Melalui refleksi dan pengaruh dari Andrei Tate, gadis ini mulai memandang dunia secara berbeda.

Elemen eksperimental film “Picture Perfect” ini amat menarik dan segar. Terutama pada akhir film yang menampilkan eksperimen gaya berpakaian Andrei Tate, menjadi simbolisasi dari keberagaman identitas keseharian orang-orang. Instrumen suara dalam film ini turut mendukung narasi dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan, bahwa setiap pengalaman hidup, setiap proses pendewasaan, dan setiap kenangan yang kita kumpulkan adalah bagian dari perjalanan hidup kita.

Film “Picture Perfect” ini menawarkan visual dan naratif yang berkesan, Kinjal Johri berhasil menyampaikan pesan yang relevan tentang rasa puas dan ketidakpuasan dalam kehidupan sehari-hari di tengah laju perkembangan teknologi dan internet. Film ini mengajak kita untuk merenung tentang bagaimana kita dapat menjalani hidup dan mencari kebahagiaan di tengah ketidakpastian.

Saksikan film “Picture Perfect” pada Special Program: International Film Students Showcase Sewon Screening 10. 

(Majesti Anisa)

Penulis Majesti Anisa

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Picture Perfect

Kinjal Johri | 7 Minutes | 2023 | Bahasa Inggris

Jadwal Pemutaran

G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 25 SEPTEMBER | 15.30 WIB

Pembaruan Terhubung