Pung Ra Rampung Nembung

- Ulasan Film

Dilema Asmara Silang Pohon

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – “Pung Ra Rampung Nembung” merupakan sebuah film pendek yang dipersembahkan oleh Rupa Rupa Films berkolaborasi dengan Fixinema. Film pendek ini mendapat dukungan Dana Keistimewaan dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta dan disutradarai oleh Ilham B Mahendra. Film ini menceritakan tentang Panjul yang ingin menemui sahabatnya, Bhe untuk membicarakan suatu hal di tengah kegiatan sinoman dalam sebuah acara pernikahan. 

Film “Pung Ra Rampung Nembung” memuat kearifan lokal sebagai cerminan nilai-nilai budaya Jawa yakni sinoman. Tradisi turun-temurun di mana masyarakat saling membantu ketika ada warga atau tetangga yang sedang menggelar hajatan seperti pernikahan. Para tamu yang menghadiri hajatan akan disuguhi makanan dan minuman sebagai tanda penghormatan dan penghargaan. Mereka yang menyajikan makanan dan minuman disebut sebagai sinoman. Pelaku sinoman biasanya anak muda dan ibu-ibu yang tinggal di sekitar tempat hajatan. Mereka menjunjung etika dan tata krama dalam melayani tamu, seperti saat mengantarkan makanan dan minuman, cara berpakaian, serta cara berbicara. Mereka tidak dibayar untuk melakoni sinoman, melainkan berdasar pada rasa gotong royong dan kekeluargaan.

Dalam film yang bernilai budaya ini juga diselingi dengan isu menikah dengan mantan pacar sahabat sendiri yang kerap terjadi di masyarakat. Banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan asmara dengan mantan pacar sahabat. Pasti ada perasaan bersalah yang mengganjal di pikiran. Kemungkinan akan berdampak pada persahabatan yang menjadi canggung dan mulai renggang. Seperti halnya Panjul yang merajut asmara dengan Indah, mantan pacar Bhe. Panjul dan Indah memanfaatkan kesempatan di sela-sela sinoman itu untuk meluruskan permasalahan mereka dengan Bhe. Panjul meminta izin dari Bhe untuk hubungan asmaranya dengan Indah.

Narasi film “Pung Ra Rampung Nembung” ini mengalir dengan baik, didukung dengan sinematografi yang memukau dan penggunaan tata busana serta tata rias yang sesuai dengan setting budaya Jawa. Penggambaran kegiatan sinoman dalam film ini  juga memberikan nuansa yang autentik. Film ini menekankan tentang pentingnya komunikasi dan menghormati perasaan orang lain. Pesan yang disampaikan sangat relevan dalam situasi di mana seorang teman menikahi mantan pacar sahabatnya. Film ini patut ditonton oleh siapa pun terutama bagi para penikmat cerita roman dengan sentuhan budaya lokal.

Lihat nanti apakah Panjul mendapat izin dari Bhe untuk hubungan asmaranya dengan Indah? Saksikan film “Pung Ra Rampung Nembung” dalam program Layar Lanskap Yogyakarta Sewon Screening 10.

(Majesti Anisa)

Penulis Majesti Anisa

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Pung Ra Rampung Nembung
Ilham Bagus Mahendra | 18 Menit | 2024 | Indonesia

Jadwal Pemutaran

Yogyatorium Dagadu Djokdja | 13 JULI | 18.30 WIB

Pembaruan Terhubung