Sahabat Selamanya
- Ulasan Film

Gelak Pantun Nenek-Nenek Rumah Tangga
Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Di tengah gempuran budaya modern yang kian mendominasi, pantun sebagai salah satu warisan budaya perlahan mulai terpinggirkan. Namun, bagi sebagian orang, bait-bait pantun masih menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Dalam setiap untaian kata yang terangkai, tersimpan humor jenaka yang mampu mengundang tawa dan pelipur diri. Seperti Nenek Fauziah dan Fatimah dalam film “Sahabat Selamanya”. Dimana jalinan persahabatan keduanya di usia senja, dibalut dengan sentuhan budaya lokal pantun Melayu yang mengisi keseharian mereka. Meski keduanya hidup di kota yang kini serba modern, mereka tetap menjaga tradisi dan keakraban dengan cara sederhana namun bermakna.
Kisah ini dimulai dengan lontaran pantun di pagi hari oleh Fauziah dan Fatima di depan koridor rumah susun yang mereka tempati secara berseberangan. Melalui interaksi ini, tampak bagaimana pantun sebagai salah satu warisan budaya, masih dipelihara dengan penuh kasih sayang di antara persahabatan mereka. Namun, di balik kesederhanaan ini, film “Sahabat Selamanya” juga menunjukkan bagaimana teknologi modern dapat menjadi tantangan baru bagi mereka. Bisa dikatakan bahwa kedua nenek ini gagap teknologi. Seperti pengalaman Fauziah dan Fatima yang gagal ketika membeli tiket bioskop akibat kurangnya pengetahuan mengenai teknologi, bukan hanya mencerminkan kesenjangan generasi, tetapi juga menunjukkan keterasingan yang sering dialami oleh para lansia di era digital. Meskipun ada kekecewaan yang dirasakan, Fauziah dengan kelembutannya mencoba meredakan kesedihan Fatima. Adegan ini menyoroti pentingnya saling mendukung di usia tua dan menentang stereotip ageisme yang seringkali mengesampingkan keberadaan para lansia.
Salah satu momen paling menyentuh dalam film ini adalah ketika Fauziah membawa proyektor milik cucunya ke rumah Fatima dengan diselingi lontaran pantun yang membuat interaksi mereka terasa ringan namun penuh makna. Ketidakmampuan Fauziah dan Fatima untuk memasang proyektor itu sendiri, menciptakan momen humor yang manis, kekonyolan ini malah semakin mempererat ikatan mereka. Untungnya, ada cucu Fauziah yang datang membantu untuk memasang proyektor itu. Dengan bantuan mereka, Fauziah dan Fatima bukan hanya tahu cara menggunakan proyektor, tetapi juga merasakan kehangatan hubungan antar generasi yang saling mendukung. Inilah esensi dari persahabatan dan keluarga yang saling mengisi dan mengandalkan satu sama lain di setiap fase kehidupan.
Film “Sahabat Selamanya” karya Dhia Firdaus ini berhasil mengangkat nilai-nilai kesetiakawanan dan budaya lokal. Dengan latar belakang rumah susun yang sederhana namun sarat makna. Hal ini semakin memperkuat bahwa kebahagiaan dapat ditemukan dalam hal-hal yang paling sederhana, selama ada teman yang setia berada di sisi kita. Film ini menjadi pengingat bahwa persahabatan dapat terus terjalin melampaui batas waktu dan usia.
Simak kisah duo nenek penggemar pantun ini dalam film “Sahabat Selamanya” pada Special Program: International Film Students Showcase Sewon Screening 10.
(Majesti Anisa)
Penulis Majesti Anisa
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira
Detail Film
Sahabat Selamanya
Dhia Firdaus | 10 Minutes | 2023 | Bahasa Malay
Jadwal Pemutaran
G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 25 SEPTEMBER | 15.30 WIB