Sejauh Mata Memandang
- Ulasan Film

Rona Roman dari Matamu
Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Bali, Pulau Dewata yang terkenal dengan keindahan alam menakjubkan dan budaya yang autentik, sering kali menjadi latar berseminya berbagai kisah cinta di tengah pesona eksotisnya. Namun, di balik keindahan pulau ini, terdapat sebuah kisah cinta yang melampaui batas fisik yaitu antara orang biasa dengan seorang tunanetra. Kisah ini menunjukkan bagaimana dua jiwa dapat saling terhubung dan memahami meskipun salah satunya tunanetra. Seperti yang tertuang dalam film dokumenter “Sejauh Mata Memandang” garapan Dhani Prasetyo. Film ini menghadirkan kisah cinta unik yang melibatkan dua pasangan yang hidup dengan tantangan berbeda di Bali. Ada Gusde Surya, seorang tunanetra yang menjalin hubungan jarak jauh dengan Jihan, seorang perempuan dengan penglihatan normal, tanpa pernah melihat rupa wajahnya. Sebaliknya, ada Bli Gus yang memiliki penglihatan normal menikah dengan Ayu, seorang perempuan yang buta sejak kecil.
Film “Sejauh Mata Memandang” ini mengangkat tema cinta yang tidak dibatasi oleh kekurangan fisik, memperlihatkan bagaimana kedua pasangan ini saling mendukung dan melengkapi satu sama lain. Gusde dan Jihan, meski menjalani hubungan jarak jauh, mereka tetap saling bergantung satu sama lain. Gusde yang tidak bisa melihat menjadikan Jihan sebagai “matanya,” sementara Jihan mengandalkan Gusde untuk dukungan emosional dan kenyamanan dalam hubungan mereka. Interaksi mereka yang penuh perhatian, mulai dari obrolan ringan melalui telepon hingga momen kebersamaan saat melukis, bernyanyi, dan bermain di pantai menunjukkan kedalaman dan ketulusan cinta keduanya.
Di sisi lain, Bli Gus dan Ayu memperlihatkan cinta dalam kehidupan pernikahan sehari-hari mereka yang dipenuhi dengan kesederhanaan. Ayu dengan keadaan penglihatan yang buta, tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dengan kemampuan luar biasa, mulai dari memasak hingga mengurus rumah tangga. Kekhawatiran Bligus dan Ayu mengenai genetik yang mungkin diturunkan kepada anak mereka, Laksmi, menambah lapisan emosional dalam cerita ini, meski pada akhirnya mereka yakin bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik. Kini, Laksmi tumbuh normal seperti anak di seusianya meski ia harus mengenakan kacamata karena matanya juling. Kehadiran Laksmi ini membuka babak baru bagi kisah cinta Bli Gus dan Ayu menjadi keluarga kecil yang harmonis.
Film “Sejauh Mata Memandang” ini menyajikan kisah antara Gusde dan Jihan serta Bligus dan Ayu secara berselang-seling, membuat film ini mudah diikuti dan tetap memikat. Film ini tidak hanya bercerita tentang cinta, tetapi juga menyuarakan isu penting mengenai disabilitas dan stigma yang melekat pada mereka yang hidup dengan keterbatasan fisik. Film ini menjadi pengingat bahwa sebagai manusia yang hanya bisa berusaha dan sering kali terlalu fokus mengejar kesempurnaan, sebenarnya yang lebih penting adalah penerimaan diri sendiri.
Ikuti kisah ketulusan cinta Gusde dan Jihan serta Bligus dan Ayu ini dalam film “Sejauh Mata Memandang” pada program Sementara untuk Selama-lamanya (Official Selection 3) Sewon Screening 10.
(Majesti Anisa)
Penulis Majesti Anisa
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira
Detail Film
Sejauh Mata Memandang
Dhani Prasetyo | 24 Minutes | 2024 | Bahasa Indonesia
Jadwal Pemutaran
G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 26 SEPTEMBER | 19.00 WIB