Terciduk
- Ulasan Film

Tikus Kelas Bawah vs. Tikus Kelas Atas
Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Ko-rup-si, merupakan isu global yang tidak hanya berdampak pada ekonomi, tetapi juga dapat merusak moralitas dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga-lembaga publik. Sering kali, praktik korupsi tersembunyi di balik lapisan transparansi dan birokrasi yang kompleks, sukar untuk diketahui publik. Namun, film animasi “Terciduk” dapat menyajikan tema korupsi ini dengan segar dan penuh humor.
Film “Terciduk” mengisahkan tentang para perampok kelas bawah yang hendak merampok sebuah bank swadaya masyarakat, dimana aksi mereka malah berujung mengungkap praktik korupsi yang tengah terjadi di dalam bank itu sendiri. Dalam film ini, praktik korupsi itu dilakukan oleh para perampok kelas atas, alias orang-orang korporat berdasi yang memiliki kekuasaan dan wewenang di dalam bank itu. Mereka melakukan tindakan kriminal yang berdampak luas tetapi tidak terlihat secara langsung oleh publik. Perampok kelas atas ini dapat menjadi faktor yang memicu tindakan para pencuri kelas bawah. Dengan kata lain, film ini menunjukkan adanya hierarki dan ketidaksetaraan dalam dunia kejahatan serta bagaimana sistem yang ada dapat mempengaruhi motivasi dan tindakan mereka. Para perampok kelas bawah sering kali terpaksa melakukan kejahatan karena keadaan atau kebutuhan mendesak, sementara para perampok kelas atas yang memiliki kekuasaan dan pengaruh lebih besar malah memanipulasi sistem untuk keuntungan pribadi.
Karakter-karakter perampok kelas bawah dalam film ini digambarkan memiliki kejujuran yang ironis, seperti saat salah satu dari mereka meminta restu ibunya sebelum merampok, maupun saat mereka menunjukkan sifat-sifat yang biasanya dianggap baik seperti disiplin, kesederhanaan, kepedulian, dan tanggung jawab dalam konteks yang kocak dan berlawanan dengan tindakan kriminal mereka. Dari adegan awal film ini, disajikan dialog-dialog yang jenaka, efektif untuk memperkenalkan karakter para anggota perampok kelas bawah dengan kepribadian unik masing-masing. Desain suara dan instrumen musik dalam film ini pun mendukung narasi dengan baik, membangun suasana yang lucu sekaligus menegangkan. Visual animasinya didominasi oleh warna oranye, hitam, dan putih. Jadi meng-highlight tone komedi dan satir dari film ini, memperkuat elemen visual yang mendukung narasi sehingga pesan dapat tersampaikan dengan menarik.
Film animasi “Terciduk” karya Alan D.W ini menawarkan lebih dari sekadar hiburan ringan dengan humor dan visual yang memikat. Film ini mengemas kritik sosial terhadap praktik korupsi dengan ringan, menyegarkan, tidak terkesan menggurui, dan keseluruhan film menjadi sindiran sosial yang lucu serta mengena. Melalui adegan-adegan penuh jenaka dan situasi yang mengejutkan, film “Terciduk” ini menjadi pengingat bahwa korupsi dapat terjadi di tempat yang tak terduga, bahkan di dalam sistem yang seharusnya menjaga kepentingan publik.
Jangan lewatkan kisah dua golongan perampok ini dalam film “Terciduk” pada Special Program: SinemAksi ACFFEST Sewon Screening 10.
(Majesti Anisa)
Penulis Majesti Anisa
Editor Nurul A’mal Mustaqimah
Penerjemah Zahwa Syachira
Detail Film
Terciduk
Alan Dharmasaputra Wijaya | 4 Minutes | 2020 | Indonesia
Jadwal Pemutaran
G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 26 SEPTEMBER | 15.30 WIB