Wijanasu

- Ulasan Film

Merumat Anjing-anjing Liar Bali

Yogyakarta, Sewon Screening 10 – Permasalahan anjing liar di Bali telah menjadi perhatian serius dalam beberapa tahun terakhir. Banyaknya kasus pembuangan dan penelantaran anjing oleh pemiliknya, serta kurangnya kesadaran masyarakat akan kesejahteraan hewan, menyebabkan populasi anjing liar meningkat drastis. Para anjing liar ini sering kali hidup dalam kondisi yang memprihatinkan, mereka menghadapi kelaparan, dehidrasi, dan bahkan terserang penyakit. Di tengah kenyataan pahit itu, untungnya masih ada segelintir orang yang dengan tulus merawat dan melestarikan anjing-anjing liar itu di Bali. Salah satunya ada Nyoman Wijana, dimana kisahnya merawat anjing-anjing liar di Payangan termuat dalam film dokumenter “Wijanasu”.

Nyoman Wijana merupakan seorang lelaki tua yang bermukim di Payangan, Bali. Wijana hidup sebatang kara, tidak mempunyai istri dan kedua orang tuanya telah meninggal. Kesehariannya bekerja sebagai buruh bayaran di pasar Payangan sambil merawat sejumlah anjing liar di sana. Wijana telah memiliki keterikatan emosional dengan anjing-anjing liar yang dirawatnya. Sejak kecil, ia sudah menyukai anjing. Wijana sendiri juga merupakan seorang anak adopsi, jadi rasa empatinya terhadap makhluk terlantar seperti anjing liar seakan tumbuh dari pengalaman pribadinya. Kepedulian Wijana terhadap para anjing liar ini bukan hanya sekadar tindakan, tetapi juga cerminan dari prinsip hidupnya bahwa sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan, tidaklah membeda-bedakan, dan manusia memiliki tanggung jawab moral untuk merawat mereka.

Narasi pembuka dalam film “Wijanasu” dengan background hitam dibaurkan dengan goresan eksperimental, sekilas membawa langsung ke pokok isunya mengenai anjing-anjing liar di Bali. Pengambilan shot yang eksploratif membuat film ini terasa segar dan dinamis, membawa kita lebih dekat dengan sosok Wijana dan para anjing liar. Salah satu momen haru dan bahagia dalam film ini adalah ketika Wijasanu membawa bayi-bayi anjing yang baru lahir dengan gerobak sorong, mengajak mereka jalan-jalan berkeliling. Sekilas momen ini seperti bapak yang mengasuh bayi dengan roller coaster. Hal ini menunjukkan adanya ikatan emosional antara Wijana dan anjing-anjingnya, serta dedikasinya yang tulus dalam merawat dan memberikan kasih sayang pada mereka.

 Film “Wijanasu” garapan Gede Bumi Apnala Bayu ini tidak sekadar mengisahkan tentang Wijana yang menyukai dan merawat anjing, tetapi juga menyuarakan isu tentang membludaknya populasi anjing liar di Bali akibat  penelantaran oleh pemiliknya. Film ini menjadi pengingat untuk menggali kepedulian terhadap anjing-anjing liar di sekitar kita terutama di Bali, sekaligus menjadi perenung bahwa tindakan sederhana seperti yang dilakukan Wijana pada anjing-anjing liar, dapat memberikan dampak berharga bagi makhluk hidup lain di sekitar kita.

Simak kisah Wijana dan anjing-anjing liarnya dalam film “Wijanasu” pada program Sementara untuk Selama-lamanya Sewon Screening 10.

(Majesti Anisa)

Penulis Majesti Anisa

Editor Nurul A’mal Mustaqimah

Penerjemah Zahwa Syachira

Detail Film

Wijanasu

Gede Bumi Apnala Bayu | 18 Minutes | 2024 | Bahasa Bali dan bahasa Indonesia

Jadwal Pemutaran

G. Concert Hall, ISI Yogyakarta | 26 SEPTEMBER | 19.00 WIB

Pembaruan Terhubung